Untukmu Generasimu

Transit Venus 2012 telah terjadi pada Rabu 6 Juni 2012 selama 6 jam 40 menit, meski dalam realitasnya durasi transit Venus bagi Indonesia adalah bervariasi antara 6 jam 30 menit untuk Merauke dan sekitarnya hingga 6 jam 40 menit untuk Sabang dan sekitarnya. Secara global peristiwa langit yang amat langka ini bisa disaksikan dari seluruh Asia dan Australia serta sebagian besar Eropa, Afrika dan Amerika.

Indonesia menjadi salah satu negara yang menempati posisi istimewa dalam Transit Venus 2012 selain Australia, Cina dan Rusia. Sebab sebagian wilayah Indonesia mampu menyaksikan seluruh tahap transit secara utuh, yakni pada kawasan full. Kawasan full melingkupi seluruh pulau Sulawesi, kepulauan Maluku dan Papua serta sebagian kepulauan Nusa tenggara (khususnya propinsi Nusa Tenggara Timur). Sebaliknya sebagian wilayah lainnya hanya menyaksikan sebagian tahap transit, yakni pada kawasan partial. Kawasan itu meliputi seluruh pulau Sumatra dan Jawa.

Pengamatan Transit Venus 2012 pun diselenggarakan di banyak tempat di Indonesia. Termasuk di kota kecil Gombong, kabupaten Kebumen (Jawa Tengah). Sebuah pos observasi temporer pun dibangun Forum Kajian ilmu Falak (FKIF) Gombong di latar depan Masjid al-Muttaqin, sebelah barat alun-alun Manunggal. Observasi menggunakan teleskop reflektor 150 mm dilengkapi papan tulis berlapis kertas yang difungsikan sebagai layar proyeksi, karena observasi direncanakan bertulangpunggungkan pada metode teraman, yakni metode proyeksi teleskopik. Papan tulis dipilih karena menyajikan citra lebih besar dan lebih tajam akan fitur-fitur di permukaan Matahari ketimbang memakai sun-gun. Alat bantu tambahan berupa kacamata Matahari pun dipersiapkan, meski dengan penekanan bahwa penggunaannya tak boleh kelamaan (maksimal 1 menit) guna menjaga mata tidak lelah. Beberapa kamera juga disiapkan untuk keperluan dokumentasi.

Target observasi Venus ini ada dua. Pertama, sebagai bagian dari edukasi publik akan cara kerja sistem tata surya, pengenalan meteorologi dan pengenalan seluk-beluk Matahari. Dan yang kedua, mencoba untuk mengukur ulang kembali jarak Bumi-Matahari pada saat Transit Venus 2012 terjadi yang diwujudkan dengan memperoleh data saat kontak III dan IV untuk kemudian dibandingkan dengan data dari titik-titik observasi lainnya di Indonesia.



Konfigurasi intrumen dalam observasi Transit Venus 2012 dengan metode proyeksi teleskopik. Sumber : FKIF Gombong, 2012.

Sejak Matahari terbit hingga pukul 07:10 WIB, sang surya seakan bersembunyi di balik awan yang bergelayut di ufuk timur. Di atas kepala kami, deretan awan lainnya nampak seakan berarak-arak dari selatan ke utara membentuk pola bergelombang, ciri khas awan cirrus. Kepadatan awan di awal bulan Juni, yang secara tradisional dikenal sebagai puncak musim kering (kemarau) dengan ciri khas langit lebih jarang ditutupi awan, memang mengejutkan. Namun sejak beberapa hari sebelumnya fenomena ini sebenarnya sudah diprediksi. Berkecamuknya badai tropis Mawar di utara Filipina seakan mengaduk-aduk atmosfer Indonesia demikian rupa.

Badai tropis Mawar, yang sempat berkembang menjadi topan Mawar, adalah badai tropis terkuat di perairan Pasifik barat selama musim badai 2012 hingga bulan Juni ini. Badai yang sempat mencapai skala 3 Saffir-Simpson dengan kecepatan puntir 140 km/jam dan merenggut 3 korban jiwa di Filipina ini ibarat vacum cleaner raksasa yang menyedot udara disekitarnya demikian rupa, termasuk udara di atas Indonesia dan Samudera Hindia. Aliran udara dari Samudera Hindia sekaligus memasok uap air sehingga sebagian besar Indonesia pun ditutupi awan dengan dinamika demikian rupa yang berbeda dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Citra satelit cuaca MTSAT-2 (NASA) memperlihatkan, kawasan Indonesia yang relatif bebas dari tutupan awan tebal hanyalah Jawa bagian tengah dan timur, sebagian Jawa Barat, Bali dan Nusatenggara serta sebagian Kalimantan.

Tutupan awan di Asia tenggara pada 6 Juni 2012 pukul 11:00 WIB, berdasarkan citra satelit MTSAT-2 spektrum visual. Sumber : NASA, 2012.

Venus, Bintik Matahari dan Badai
Matahari akhirnya benar-benar menampakkan dirinya selepas pukul 07:10 WIB dan terus berlanjut hingga 09:55 WIB. Selama itu citra proyeksi Matahari nampak cukup jelas dan kontras sehingga bundaran hitam Venus yang sedang “menyeberangi” cakram Matahari terlihat jelas. Audiens juga dapat membandingkan posisi Venus dari waktu ke waktu setiap 30 menit sekali, sehingga terlihat jelas bahwa Venus bergerak relatif terhadap Matahari. Bila dikombinasikan dengan pengamatan fase-fase Venus, maka gerak ini memperlihatkan bahwa Venus-lah yang bergerak mengitari Matahari. Jadi bukan karena Venus bergerak mengelilingi Bumi seperti halnya Bulan mengelilingi Bumi sebagaimana anggapan pengusung gagasan geosentris (Bumi sebagai pusat tata surya). Di sinilah salah satu nilai penting pengamatan Transit Venus, untuk membuktikan mana yang lebih tepat antara konsep geosentris atau heliosentris (Matahari sebagai pusat tata surya).

Perbandingan posisi Venus saat Transit Venus antara pukul 07:58 WIB dan 09:24 WIB. Nampak Venus relatif bergeser (terhadap bintik Matahari 1493). Sumber : FKIF Gombong, 2012.

Selain Venus, di permukaan cakram Matahari juga nampak fitur-fitur lain berupa titik-titik lebih gelap namun lebih kecil dibanding bundaran Venus. Titik-titik tersebut adalah bintik Matahari, yakni titik-titik yang suhunya rata-rata 1500 Kelvin lebih rendah dibanding suhu permukaan (fotosfera) Matahari disekitarnya. Beberapa bintik Matahari yang teridentifikasi misalnya bintik Matahari 1493, 1494 dan 1497. Ketiganya tergolong bintik Matahari berukuran raksasa. Bintik-bintik Matahari ini terjadi akibat adanya gangguan magnetik Matahari, sehingga aliran energi Matahari setempat sangat terhambat. Hambatan ini ibarat bendungan pasir yang menutupi alur sebuah sungai, sehingga pada waktunya nanti akan jebol dan memuntahkan energi dibaliknya. Jebolnya bintik-bintik Matahari akan mengalirkan badai Matahari dengan energi sangat besar.

Perbandingan bintik Matahari dalam Transit Venus dengan pantauan satelit Solar Dynamics Observatory. Sumber : FKIF Gombong & NASA, 2012.

Kami menganalogkan proses ini seperti halnya gunung berapi, bedanya “gunung berapi Matahari” adalah demikian besarnya sehingga letusannya pun sangatlah dahsyat. Beruntung Bumi memiliki medan magnetik cukup kuat sehingga setiap terjangan badai Matahari dapat ditapis atau dinetralkan ke kutub-kutub geomagnetik Bumi. Namun tidak demikian dengan Venus. Planet seukuran Bumi ini memiliki rotasi amat lambat sehingga gagal membentuk medan magnetik pelindung dan akibatnya terjangan badai Matahari amat berdampak, khususnya pada atmosfernya. Diperhitungkan sebuah terjangan badai Matahari akan menaikkan suhu atmosfer Venus hingga 33 % lebih tinggi dibanding semula, sehingga temperaturnya melonjak mendekati 600 derajat Celcius. Andaikata lonjakan suhu serupa berlangsung di Bumi (dalam kondisi Bumi tidak memiliki medan magnetik), akan berimplikasi sangat serius sebab 30 % populasi makhluk hidup khususnya yang sensitif terhadap kenaikan suhu bakal musnah.

Perbandingan tutupan awan di latar depan Matahari antara pukul 07:58 WIB dan 08:53 WIB. Sumber : FKIF Gombong, 2012.

Pengamatan Matahari dalam Transit Venus juga memperlihatkan bagaimana dinamisnya atmosfer Bumi kita. Dari waktu ke waktu gerakan awan yang melintas di latar depan Matahari terpampang di layar proyeksi sebagai sapuan abu-abu yang bergerak cepat. Seluruhnya menunjukkan pola pergerakan dari selatan ke utara. Dalam beberapa kesempatan, sapuan awan demikian tebalnya sehingga bundaran Matahari (dan Venus) hanya terlihat samar-samar. Konsentrasi awan yang terus menebal pula yang membuat Matahari dan Venus menghilang dari layar proyeksi sejak 09:55 WIB. Sejak itu Matahari terus bersembunyi di balik tebalnya awan. Sampai saat observasi berakhir pada 11:40 WIB, situasi langit tak berubah.

Warisan untuk Generasi Mendatang
Meski dirancang sebagai observasi sederhana dan tanpa publikasi yang bertebaran dimana-mana, Transit Venus 2012 rupanya menarik perhatian banyak orang. Sejumlah lembaga pendidikan bahkan mengarahkan siswa-siswinya untuk mengunjungi pos observasi Venus kami. Sekitar 50 orang pun berkerumun di samping teleskop dan layar proyeksi. Beberapa diantaranya juga menyempatkan untuk mencoba kacamata Matahari. Sebagian besar merasa takjub melihat betapa kecilnya Venus dibanding Matahari. Apalagi setelah mengetahui bahwa dimensi Venus hampir sama dengan Bumi, sehingga seukuran itu pula Bumi apabila disandingkan dengan Matahari. Sebagian merasa beruntung dapat menyaksikan Venus secara langsung, benda langit populer yang selama ini hanya diketahui lewat bangku pelajaran di sekolah. Sebagian bahkan merasa takjub, menyadari bahwa Transit Venus 2012 ini adalah peristiwa sejenis yang terakhir di abad ini dan baru akan terjadi kembali dalam 105,5 tahun mendatang.

Konfigurasi alat dari dekat. Nampak hasil proyeksi beserta bintik hitam Venus. Sumber : FKIF Gombong, 2012.

Tebalnya awan membuat waktu kontak III Transit Venus 2012 tak bisa diamati. Sehingga kesempatan untuk mengukur ulang jarak Bumi-Matahari, khususnya pada saat itu, pun tidak bisa dilangsungkan. Namun sisi edukasi dari observasi ini telah tercapai. Dokumentasi yang telah diambil dan pemaparan yang telah dilakukan membuat kita semakin menyadari bagaimana kinerja tata surya ini sebagai ekspresi kemahakuasaan Allah SWT. Maka tak berlebihan jika dikatakan peristiwa Tranbsit Venus 2012 membuat kita semua yang menyaksikannya menjadi semakin religius.

Tutupan awan tebal di depan Matahari jelang kontak III Transit Venus 2012. Sumber : FKIF Gombong, 2012

Dokumentasi-dokumentasi tersebut sekaligus menjadi warisan bagi generasi yang akan datang. Bahwa tata surya ini tidak hanya ada di buku-buku pelajaran yang kadang disampaikan dengan membosankan, namun juga bisa dilihat di sekitar kita asal waktunya tepat. Transit Venus 2012 memberi pelajaran bagaimana cara kerja, skala jarak dan dinamika keluasan tata surya ini sekaligus memahami betapa kecilnya manusia di hadapan Matahari dan keluarganya, apalagi di hadapan-Nya.

Menatap Matahari dengan kacamata Matahari. Sumber : FKIF Gombong, 2012.
Sebagian audiens sedang mendengarkan pemaparan tentang Venus. Sumber : FKIF Gombong, 2012.

Ma'rufin Sudibyo

Orang biasa saja yang suka menatap bintang dan sedang mencoba menjadi komunikator. Saat ini sebagai ketua tim ahli Badan Hisab dan Rukyat Daerah (BHRD) Kebumen, Jawa Tengah. Aktif pula dalam Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Falak Rukyatul Hilal Indonesia (LP2IF RHI), Ikatan Cendekiawan Falak Indonesia (ICFI), Jogja Astro Club dan International Crescent Observations Project(ICOP). Juga sebagai pembimbing dan pendamping Forum Kajian Ilmu Falak (FKIF) Gombong dan Majelis Kajian Ilmu Falak (MKF) Kebumen, keduanya di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

One thought on “Untukmu Generasimu

Leave a Reply