Tips Pengamatan langit malam

Mengamati langit malam dan menikmati keindahan nya memberikan kepuasan tersendiri bagi sebagian orang. Namun bilamana langit mulai berawan dan terterangi oleh cahaya lampu kota, maka harapan untuk melihat keindahan langit malam usailah sudah. Dalam bahasan kali ini kita akan membahas seputar bagaimana agar observasi bintang, meteor dan benda-benda langit lainnya dapat lebih maksimal. Berikut beberapa faktor yang saya simpulkan berdasarkan observasi dan pengamatan bintang yang telah saya lakukan bersama TIM JAC.



Cuaca
Cuaca merupakan nomor satu dari penentu keberhasilan observasi kita. Hujan, berkabut dan berawan merupakan salah satu contoh cuaca yang sering mengganggu kegiatan pengamatan langit. Sekalipun ketika musim kemarau tiba jika langit berawan atau berkabut dapat dipastikan kegiatan pengamatan langit akan terganggu. Dari berbagai observasi yang telah dilakukan oleh kawan-kawan termasuk saya, membuktikan bahwa cuaca merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan. Langit yang baik adalah langit yang tampak gelap berwarna hitam dan bintang-bintang nampak sangat cerah.

Mendung yang merupakan salah satu faktor cuaca. Kredit : Bank Data JAC

Kondisi Lokasi Observasi
Kondisi lokasi atau tempat observasi menjadi urutan ke dua sebagai penentu keberhasilan kita dalam pengamatan langit. Tempat yang kaya cahaya seperti kota-kota besar merupakan tempat yang buruk bagi observasi langit namun berbeda dengan tempat yang rendah cahaya seperti di desa, hutan, pantai, gunung dan tempat-tempat yang rendah polusi cahaya lainya. Bagi pengamatan tempat-tempat yang rendah polusi cahaya merupakan surga bagi para astronom. Karena ditempat seperti ini bintang-bintang bermagnitude(tingkat kecerahan) lebih dari +3.5 akan tampak bersinar cukup terang sehingga ditempat yang sangat rendah polusi cahaya, langit akan tampak gelap dan berwarna hitam kemudian bintang akan berhamburan dilangit sangat banyak dan bintang-bintang yang terlihat dikota/tempat kaya cahaya akan lebih terang dari pada sebelum nya. Itu sebab nya alasan utama observatorium-observatorium yang ada di bumi ditempatkan di gunung dan tempat-tempat yang jauh dari polusi cahaya kota. Pengalaman menunjukkan ketika saya dan kawan-kawan hijrah lokasi observasi dari pinggir kota ke pantai, sebuah pemandangan alam semesta jauh lebih terlihat daripada di pinggir kota alhasil sebuah fenomena lengan bimasakti tampak jelas.

Kondisi Langit malam di Pinggiran Kota Yogyakarta, Nampak Samar-samar Galaksi Bimasakti. (Exposure 48 detik)Kredit : Bank Data JAC

Bulan
Selain sebagai satelit bumi yang selalu menemani bumi, bulan juga selalu menerangi langit malam manakala ia muncul di malam hari. Hal ini disebabkan bulan yang terkena sinar matahari memantulkan cahaya nya ke bumi. Dalam observasi benda langit, bulan dapat menjadi salah satu faktor yang akan mengganggu pengamatan bintang kita. Pantulan cahaya matahari yang mengenai bulan kemudian dipantulkan kebumi membuat langit malam yang seharus nya gelap akan tampak terang seperti kondisi langit pada siang hari. Hal ini pastilah sangat mengganggu apalagi pada saat bulan purnama, dapat dipastikan hanya bintang-bintang bermagnitude <2 yang hanya akan tampak dilangit malam. Bulan yang memantulkan cahaya ke bumi menjadi faktor ketiga dalam observasi bintang. Langkah-langkah terbaik dalam observasi adalah dengan menentukan kapan bulan terbenam dan kapan bulan terbit. Berikut timing waktu untuk berobservasi:

Untuk mendapatkan angka waktu yang lebih valid dapat menggunakan Sky View Cafe atau software astronomy lainnya dan waktu di sesuaikan berdasar waktu setempat. Images Credit: Wikipedia.org

Eko Hadi G

Penulis dan editor di Kafe Astronomi.com yang mendalami dunia astronomi amatir semenjak tahun 2010. Selain astrofotografi, Web Kafe Astronomi.com merupakan salah satu wujud kecintaannya kepada dunia astronomi di Indonesia. Email : ekohadigunawan@gmail.com Fb : Eko Hadi G

Leave a Reply