Si Cantik yang Amat Ganas – Venus Serial 1

Venus adalah planet terdekat kedua terhadap Matahari dalam tata surya kita. Venus beredar pada jarak rata–rata 108,2 juta km dari Matahari dan hanya membutuhkan waktu 224,7 hari Bumi untuk mengelilingi Matahari sekali putaran. Dengan demikian Venus menjadi planet tetangga terdekat dengan Bumi kita. Fakta ini, ditambah dengan fakta bahwa diameter Venus hanya sedikit lebih kecil dibanding Bumi (12.100 km, sementara diameter Bumi 12.700 km) dan demikian pula massanya (benda seberat 10 kg di Bumi akan seberat 9 kg di Venus), membuat Venus kerap dianggap sebagai kembaran Bumi. Anggapan itu semakin kuat, apalagi karena permukaan Venus juga lebih banyak dibentuk aktivitas vulkanisme seperti halnya Bumi.



Globe Venus, disusun berdasarkan data radar satelit Magellan (NASA, 1989 – 1994).

Namun sifat–sifat lainnya sungguh bertolak belakang. Jika Bumi berotasi dalam 24 jam sekali, maka Venus butuh waktu 243 hari Bumi guna berputar sekali mengelilingi sumbunya. Artinya, sehari (bintang) di Venus lebih lama ketimbang setahun Venus ! Arah rotasi Venus juga berkebalikan dibandingkan Bumi, karena berputar dari timur ke barat. Sehingga jika kita tinggal di permukaan venus, kita akan menyaksikan Matahari terbit di barat dan terbenam di timur. Matahari terbit di Venus setiap 116,75 hari Bumi sekali.

Atmosfer Venus juga sangat ekstrim dibandingkan Bumi, yakni 93 kali lebih massif. Sehingga tekanan udara di permukaan Venus mencapai 90 kali lipat tekanan udara permukaan Bumi. Atmosfernya disusun 96 % karbondioksida, 3,5 % nitrogen dan 0,5 % sisanya gas lainnya. Amat berlimpahnya jumlah gas karbondioksida membuat Venus mengalami pemanasan global besar-besaran yang berkelanjutan dengan hasil amat dramatis, sebab menjadikan suhu rata–rata permukaannya mencapai 467 derajat celcius, menjadikannya planet terpanas di tata surya kita. Sehingga permukaan Venus sanggup melelehkan logam timah dan seng dengan mudah. Karena suhunya demikian tinggi dan fenomena tersebut disebabkan oleh pemanasan global, Venus sering menjadi contoh tentang apa yang bisa terjadi di Bumi jika kita tak mampu mengendalikan emisi gas karbondioksida (dalam wujud penggunaan energi minyak, gas dan batubara secara gegabah dan besar-besaran tanpa kontrol).

Permukaan Venus yang panas membara, sempat diabadikan wahana pendarat Venera (sebelum hancur).

Venus amat dikenal manusia sejak awal peradaban, karena benda langit menjadi benda langit terterang ketiga yang menghiasi langit kita setelah Matahari dan Bulan purnama. Banyak nama yang disematkan untuk Venus. Orang Babilonia menyebutnya Ishtar, orang Sumeria menamakannya Innana, sementara orang Arab menamakannya Zahara dan di Jawa (Indonesia) dikenal sebagai lintang panjer rina. Saking terpesonanya dengan Venus, beberapa peradaban masa silam bahkan memiliki lebih dari satu nama untuknya. Mesir misalnya, menyebutnya Tiomoutiri dan Ouatiri, sementara Yunani menamakannya Phosphorus dan Hespherus. Orang Maya menyebutnya Noh Ek dan Xux Ek. Bahkan orang Romawi punya sederet nama untuk Venus : Lucifer, Vesper, Cytherea dan Venera.

Venus dalam relief Babilonia dari era Raja Nabonidus (panah), bersama Matahari (tengah) dan Bulan sabit (kanan).

Peradaban masa silam menjuluki Venus sebagai ‘ratu kecantikan’ langit dan dinisbatkan bersifat feminin, terutama karena cahaya putihnya yang terang namun tak menyilaukan (dan justru melembutkan). Simbol astronomi untuk Venus pun kemudian menjadi simbol biologis untuk perempuan. Namun setelah semua fakta sesungguhnya tentang Venus diketahui, khususnya lewat pengamatan teleskopik dan penjelajahan antariksa, kini kita bisa mengatakan Venus memang si cantik yang ganas.

Ma'rufin Sudibyo

Orang biasa saja yang suka menatap bintang dan sedang mencoba menjadi komunikator. Saat ini sebagai ketua tim ahli Badan Hisab dan Rukyat Daerah (BHRD) Kebumen, Jawa Tengah. Aktif pula dalam Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Falak Rukyatul Hilal Indonesia (LP2IF RHI), Ikatan Cendekiawan Falak Indonesia (ICFI), Jogja Astro Club dan International Crescent Observations Project(ICOP). Juga sebagai pembimbing dan pendamping Forum Kajian Ilmu Falak (FKIF) Gombong dan Majelis Kajian Ilmu Falak (MKF) Kebumen, keduanya di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Leave a Reply