Setelah Bulan Menggerhanai Jupiter

Dua raksasa langit itu sempat menempati posisi segaris lurus terhadap Bumi ditinjau dari segala sumbu koordinat. Kita di Bumi menyaksikannya layaknya peristiwa gerhana, karena salah satu benda langit itu beringsut menutupi benda langit lainnya untuk kurun waktu beberapa lama. Namun jangan bayangkan gerhana ini semenakjubkan Gerhana Matahari ataupun Gerhana Bulan. Sebab ukuran sudut kedua benda langit itu demikian berbeda sehingga tatkala berjejer di langit ibarat gajah yang dipaksa berdampingan dengan tikus.

Inilah yang terjadi pada Bulan dan Jupiter pada Selasa 22 Januari 2013 lalu. Pada hari itu, tepatnya sejak sekitar pukul 11:00 WIB sampai dengan 30 menit hingga 60 menit kemudian, bergantung kepada lokasinya, Bulan dan Jupiter terletak tepat dalam satu garis lurus dari segala arah, atau berada dalam satu garis lurus syzygy, sehingga Bulan dan Jupiter menempati satu titik yang sama di langit. Astronomi menyebut peristiwa ini sebagai okultasi, namun dalam ranah populer bolehlah disebut gerhana. Karena Jupiter berjarak lebih jauh dibandingkan Bulan, maka kita bakal menyaksikan bundaran Bulan menutupi Jupiter sehingga peristiwa ini disebut Gerhana Jupiter.

Gambar 1. Detik-detik saat Jupiter lenyap dari pandangan mata seiring terjadinya penutupan oleh cakram Bulan yang dimulai dari sisi timur, sebagaimana diabadikan teleskop berperlengkapan kamera dari Buenos Aires (Argentina). Sumber: Agerich, 2013 dalam Spaceweather.com, 2013.
Gambar 1.
Detik-detik saat Jupiter lenyap dari pandangan mata seiring terjadinya penutupan oleh cakram Bulan yang dimulai dari sisi timur, sebagaimana diabadikan teleskop berperlengkapan kamera dari Buenos Aires (Argentina).
Sumber: Agerich, 2013 dalam Spaceweather.com, 2013.

Jupiter adalah planet jumbo terbesar dalam tata surya kita dengan dimensi 11,21 kali lipat lebih besar dibanding Bumi. Planet ini sekaligus adalah planet termassif (memiliki massa paling tinggi) sehingga 318 massa bumi bisa dijejalkan ke dalamnya tanpa tersisa. Demikian massifnya sehingga gravitasi Jupiter bahkan dirasakan oleh segenap planet-planet lainnya yang membuat planet gas raksasa ini menjadi salah satu faktor kunci penentu stabilitas tata surya. Namun pada 22 Januari 2013, Jupiter berjarak 667 juta km dari permukaan Bumi, jauh lebih besar dibanding Bulan yang ‘hanya’ sejauh 409.600 km. Akibatnya, meski dimensi Bulan hanyalah sepertiga Bumi, kita di Bumi akan menyaksikan Jupiter hanya nampak sebagai bintik kecil mungil yang 40 kali lipat lebih kecil dibanding tampilan Bulan. Dengan tampilannya yang jauh lebih kecil, maka pada peristiwa Gerhana Jupiter ini kita hanya akan menyaksikan titik cahaya terang Jupiter mendadak lenyap dibalik bundaran cakram Bulan, untuk kemudian mendadak nampak lagi setelah beberapa saat.



Karena konfigurasi posisi Bulan dan Jupiter yang khas, maka Gerhana Jupiter 22 Januari 2013 tidak bakal terlihat dari segenap penjuru Bumi kecuali kawasan Samudera Pasifik bagian selatan dan daratan benua Amerika bagian selatan. Di sepanjang kedua kawasan itu pun tidak semuanya sanggup menyaksikan Gerhana Jupiter secara kasat mata, karena bagi kawasan Samudera Pasifik bagian selatan, gerhana terjadi kala Matahari belum terbenam. hanya di sebagian besar Amerika selatan saja Gerhana Jupiter dapat dinikmati dengan leluasa karena terjadi pada waktu malam hari.

Gambar 2. Peta lintasan Gerhana Jupiter 22 Januari 2013. Garis merah putus-putus: lokasi dimana gerhana terjadi kala siang, garis biru : lokasi kala gerhana terjadi tepat saat dan pasca Matahari terbenam dan garis putih: lokasi dimana gerhana terjadi kala malam. Sumber: lunar-occultations.com, 2013.
Gambar 2.
Peta lintasan Gerhana Jupiter 22 Januari 2013. Garis merah putus-putus: lokasi dimana gerhana terjadi kala siang, garis biru : lokasi kala gerhana terjadi tepat saat dan pasca Matahari terbenam dan garis putih: lokasi dimana gerhana terjadi kala malam.
Sumber: lunar-occultations.com, 2013.

Bagaimana dengan Indonesia? Kali ini kita terpaksa gigit jari. Tak satupun titik di Indonesia yang dikenai lintasan Gerhana Jupiter 22 Januari 2013 ini. Sehingga di Indonesia Jupiter hanya terlihat sangat berdekatan dengan Bulan dalam dua malam berturut-turut, yakni pada Senin malam 21 Januari 2013 dan Selasa malam 22 Januari 2013. Pada Senin malam alias pada pra-gerhana, Jupiter berada di sebelah timur Bulan dan hanya berjarak sudut sekitar 6 derajat saja dari Bulan. Sebaliknya pada Selasa malam atau pasca-gerhana, Jupiter telah berada di sebelah barat Bulan dengan jarak sudut antara keduanya hanya 5 derajat. Dan alhamdulillah, pasca anomali cuaca akibat melintasnya osilasi Madden-Julian serta gangguan atmosferik akibat bertiupnya topan Narelle yang menyebabkan banjir dimana-mana, langit relatif cerah. Sehingga saat-saat Jupiter berada di dekat Bulan baik dalam situasi pra-gerhana maupun pasca-gerhana dapat diamati dengan leluasa dari sejumlah titik di Indonesia, bahkan termasuk dari Bundaran Hotel Indonesia (Jakarta) yang baru saja surut setelah terjangan banjir.

Pasca gerhana ini, Gerhana Jupiter berikutnya akan terjadi dalam sebulan berikutnya, tepatnya pada 18 Februari 2013 mendatang. Dan lagi-lagi Indonesia tak beruntung karena lintasan gerhana hanya akan menyentuh Australia barat daya dan selatan saja. Namun panorama Jupiter dan Bulan pada saat itu bakal lebih baik dibanding kali ini, karena pada 18 Februari 2013 Jupiter dan Bulan hanya berselisih jarak sudut kurang dari 1 derajat saja.

Gambar 3. Bulan (kiri) dan Jupiter (kanan) menjelang Gerhana Jupiter, diabadikan pada Senin malam 21 Januari 2013 dengan menggunakan kamera DSLR pada waktu paparan (exposure time) 1 detik. Atas adalah utara dan kanan adalah timur.  Sumber : Sudibyo, 2013.
Gambar 3.
Bulan (kiri) dan Jupiter (kanan) menjelang Gerhana Jupiter, diabadikan pada Senin malam 21 Januari 2013 dengan menggunakan kamera DSLR pada waktu paparan (exposure time) 1 detik. Atas adalah utara dan kanan adalah timur.
Sumber : Sudibyo, 2013.
Gambar 4. Jupiter (kiri) dan Bulan (kanan) pasca Gerhana Jupiter, diabadikan pada Selasa malam 22 Januari 2013 dengan menggunakan kamera DSLR pada waktu paparan (exposure time) 1 detik pada titik pengamatan yang sama dengan malam sebelumnya namun dengan langit lebih cerah. Perhatikan bahwa Jupiter kini telah menempati posisi di sebelah barat Bulan.  Sumber : Sudibyo, 2013.
Gambar 4.
Jupiter (kiri) dan Bulan (kanan) pasca Gerhana Jupiter, diabadikan pada Selasa malam 22 Januari 2013 dengan menggunakan kamera DSLR pada waktu paparan (exposure time) 1 detik pada titik pengamatan yang sama dengan malam sebelumnya namun dengan langit lebih cerah. Perhatikan bahwa Jupiter kini telah menempati posisi di sebelah barat Bulan.
Sumber : Sudibyo, 2013.

 

Ma'rufin Sudibyo

Orang biasa saja yang suka menatap bintang dan sedang mencoba menjadi komunikator. Saat ini sebagai ketua tim ahli Badan Hisab dan Rukyat Daerah (BHRD) Kebumen, Jawa Tengah. Aktif pula dalam Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Falak Rukyatul Hilal Indonesia (LP2IF RHI), Ikatan Cendekiawan Falak Indonesia (ICFI), Jogja Astro Club dan International Crescent Observations Project(ICOP). Juga sebagai pembimbing dan pendamping Forum Kajian Ilmu Falak (FKIF) Gombong dan Majelis Kajian Ilmu Falak (MKF) Kebumen, keduanya di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Leave a Reply