Selamat Jalan Komet Elenin

Diramalkan bakal menjadi komet paling terang sepanjang 2011. Sebagian bahkan meyakini komet ini adalah benda langit yang bakal terlibat dalam petaka 2012. Faktanya, sang komet justru menjalani nasib teramat tragis: dibelah hantaman badai Matahari 20 Agustus 2011. Pembelahan ini adalah awal reaksi berantai, pemecah-belahan komet yang berlangsung secara berulang-ulang seiring kian mendekatnya komet menyusuri orbitnya hingga mencapai perihelionnya. Sebagai akibatnya, sang komet pun remuk, hancur lebur berantakan menjadi sekumpulan gumpalan batu dan debu yang terdispersi di angkasa.

Awan debu yang sangat redup, produk sisa-sisa komet Elenin, diabadikan pada 23 Oktober 2011. Sumber : Remanzacco Observatory, 2011.

Inilah yang dialami komet Elenin. Lebih dari sebulan komet ini menghilang dari pandangan manusia selepas terakhir kali terdeteksi pada 11 September 2011 silam lewat jepretan Michael Matiazzo, astronom amatir Australia. Bahkan saat komet diperhitungkan melintas sejauh 35 juta km dari Bumi pada 16 Oktober 2011 lalu, tak satupun pengamat yang melaporkan terlihatnya komet ini. Barulah pada 21-22 Oktober 2011, setelah posisi komet lebih tinggi dibanding gelimang cahaya fajar nautikal, laporan pengamatan komet Elenin mulai berdatangan. Dan hasilnya sungguh mengejutkan.



Komet Elenin ternyata betul-betul remuk. Tak ada lagi coma (kepala komet) dan ekornya yang khas, yang demikian memukau banyak manusia. Tak ada pula juluran ekor gas atau ekor ionnya yang kebiruan itu. Sebagai gantinya terdapat sebentuk obyek mirip awan nan lonjong, dengan panjang 1,5 derajat dan lebar 10 menit busur. Awan ini sangat redup, dengan magnitudo semu sekitar +15 atau lebih redup ketimbang Pluto. Ini kumpulan batu dan debu yang terbentuk sebagai hasil pemecah-belahan berulang yang brutal pada komet Elenin.

Awan debu sisa-sisa komet Elenin dalam warna nyata (atas) dan pewarnaan semu yang dipertajam kontrasnya (bawah). Sumber : Remanacco Observatory, 2011.

Observasi tim Remanzacco Observatory dengan bersenjatakan teleskop robotik Mayhill (AS) memperlihatkan morfologi awan tersebut sekilas mirip dengan bentuk komet Shoemaker-Levy 9 saat ditemukan 1993 silam, yang kemudian menghantam planet gas raksasa Jupiter setahun berikutnya. Namun bila dicermati, terdapat perbedaan mencolok. Pada komet Shoemaker-Levy 9, masing-masing pecahan kometnya masih bisa diidentifikasi dan semuanya tetap memperlihatkan aktivitasnya sehingga masing-masing tetap membentuk coma (kepala komet) dan ekor komet. Sebaliknya, pada komet Elenin, pecahan-pecahannya tidaklah demikian. Dengan posisinya yang lebih dekat ke Matahari dibanding komet Shoemaker-Levy 9, seharusnya pecahan-pecahan komet Elenin masih memperlihatkan sisa aktivitasnya dalam tingkat yang lebih tinggi seiring lebih tingginya tekanan angin Matahari yang menerpanya. Ketiadaan aktivitas komet dalam awan debu ini menggiring pada dua dugaan: komet telah terpecah-belah demikian brutal sehingga menjadi gumpalan-gumpalan kecil, atau pecahan-pecahan komet Elenin yang masih cukup besar telah kehilangan bahan-bahan volatil di permukaannya sehingga menjadi komet mati.

Komet Shoemaker-Levy 9 pada saat ditemukan (1993). Sekilas nampak seperti awan debu sisa-sisa komet Elenin, namun jika dicermati lebih lanjut pada komet Shoemaker-Levy 9 ini masih nampak aktivitas komet dari masing-masing pecahannya. Sumber : NASA, 1993

Skenario manapun yang terjadi, peristiwa yang menimpa komet Elenin menyajikan pelajaran sangat berharga bagi kita, saat tata surya mendemonstrasikan bagaimana dahsyatnya kekuatan sebuah badai Matahari terhadap benda langit kecil nan rapuh seperti komet. Kini, sebuah komet bisa menghilang dari tata surya tidak hanya disebabkan oleh tiga faktor klasik (berbenturan dengan planet, terlempar keluar dari tata surya dan teruapkan habis kala terlalu dekat dengan Matahari), namun harus ditambahkan satu faktor baru: hancur akibat pemecah-belahan brutal yang dipicu hantaman badai Matahari.

Selamat jalan komet Elenin…

Ma'rufin Sudibyo

Orang biasa saja yang suka menatap bintang dan sedang mencoba menjadi komunikator. Saat ini sebagai ketua tim ahli Badan Hisab dan Rukyat Daerah (BHRD) Kebumen, Jawa Tengah. Aktif pula dalam Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Falak Rukyatul Hilal Indonesia (LP2IF RHI), Ikatan Cendekiawan Falak Indonesia (ICFI), Jogja Astro Club dan International Crescent Observations Project(ICOP). Juga sebagai pembimbing dan pendamping Forum Kajian Ilmu Falak (FKIF) Gombong dan Majelis Kajian Ilmu Falak (MKF) Kebumen, keduanya di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Leave a Reply