Sejarah Pengamatan Matahari

Bagi manusia kebanyakan, matahari nampak tidak berarti. Pergantian siang malam yang terjadi hanya di anggap denyutan lemah yang diselubungi irama aktifitas manusia itu sendiri. Manusia terlalu tergesa-gesa bahkan terlalu sibuk untuk menatap ke atas. Apalagi mengamati apa yang terjadi?

Tetapi tidak bagi para pengamat luar angkasa. Bagi mereka, benda-benda luar angkasa adalah benda-benda yang penuh misteri dan perlu untuk dipelajari, apa pengaruhnya bagi bumi? Apa yang bisa mereka lakukan pada bumi? Apa yang bisa mereka akibatkan pada kehidupan di bumi?

Pada dasarnya matahari merupakan bintang seperti kebanyakan bintang yang bisa kita lihat ketika di malam hari. Hanya saja matahari menjadi lebih spesial karena merupakan salah satu bintang yang wajahnya bisa kita lihat secara langsung oleh mata dan memiliki jarak cukup dekat dengan bumi dibandingkan bintang-bintang lainnya.



Sejarah Pengamatan Matahari
Sejak masa Galileo Galilei (1610) pengamatan terhadap matahari sudah mulai dilakukan, hanya saja pada masa itu pengamatan dilakukan dari bumi dengan bantuan teleskop manual. Bahkan para ahli astronomi dari Kekaisaran China sudah melakukan pengamatan matahari dalam tataran kosmologi dan melakukan pengamatan dengan mata telanjang sejak fajar hingga senja. Mereka menganggap perubahan yang terjadi pada matahari, seperti menurunnya tingkat kecerahan cahaya karena adanya noda matahari, sebagai sebuah pertanda akan datangnya bencana. Tetapi pasca Perang Dunia II, ilmu mengenai matahari  mulai memasuki ruang angkasa sehingga mengalami perkembangan yang cukup pesat. Hal ini memberikan kemajuan besar dibidang astronomi pada umumnya dan matahari pada khususnya. Dan sejak itu dimulailah ekspedisi-ekspedisi luar angkasa untuk mengamati matahari.

Ekspedisi-1
Sekitar tahun 1960 Roket V2 Jerman diluncurkan untuk merekam aktifitas matahari secara langsung dari luar atmosfer bumi. Roket V2 menjadi roket pertama yang membawa peralatan khusus yang akan mencatat aktifitas matahari. Tetapi sayangnya film itu tidak pernah ditemukan karena roket tersebut hancur ketika kembali ke bumi. Ya. Tim Roket mengalami kesulitan untuk membawanya kembali ke bumi dengan selamat. Belajar dari kegagalan tersebut, kemudian para astronom merancang ekspedisi berikutnya. Dalam ekspedisi kali ini Tim Roket menyertakan seorang Ahli Astro-Fisika, Don Mitchels, sekaligus penemu koronagraf, yaitu sebuah teleskop yang digunakan untuk mengamati korona dengan menutup bola matahari sehingga hanya bagian korona saja yang terlihat, pengamatan dengan metode seperti ini bisa dikatakan menyerupai simulasi gerhana matahari. Don membantu Tim Roket dengan membawa serta koronograf dalam ekspedisi. Ekspedisi kali ini bertujuan untuk merekam aktifitas matahari, mengirimkan hasilnya melalui bantuan satelit dan merekonstruksinya dengan menggunakan film polaroid.

Pada ahirnya ekspedisi ini membawa hasil. Para ilmuan menemukan adanya pergerakan cahaya putih yang menjauhi matahari dengan kecepatan cukup tinggi. Inilah badai matahari atau yang kita kenal dengan CME (Coronal Mass Ejection). Hasil penelitian ini memberikan gambaran aktifitas matahari secara lebih mendalam. Tetapi pada masa itu para ilmuan belum mengetahui apa dampak aktifitas tersebut bagi bumi?

Ekspedisi-2
Untuk mencari tau lebih jauh aktifitas matahari, pada tahun 1973 SKYLAB diluncurkan sebagai stasiun luar angkasa yang mengawasi aktifitas matahari secara langsung dengan merekam minimal 1 CME setiap harinya.

Stasiun luar angkasa pertama Skylab. Courtsey: wikipedia

Ekspedisi-3
Untuk mendukung SKYLAB, tahun 1995 SOHO diluncurkan untuk mengawasi aktifitas matahari selama 24 jam penuh dengan penampakan mata biasa dan ultraviolet. Orbit SOHO terletak di antara bumi dan matahari dimana grafitasi keduanya seimbang. SOHO sendiri merupakan proyek luar angkasa hasil kolaborasi Agen Angkasa Eropa dan NASA. Peluncuran ini dimaksudkan untuk mempelajari fisik dan struktur matahari serta untuk mengetahui tanda bahaya terkait aktifitas matahari dan dampaknya terhadap bumi, seperti badai matahari.

Aktifitas Matahari
Dalam 20 tahun terahir diketahui bahwa energi matahari mengalami perubahan. Hal tersebut terlihat dari jumlah sunspot yang mengalami perubahan secara terus-menerus. Jumlah sunspot memberikan pengaruh besar terhadap volume dan energi yang di lontarankan oleh CME (Coronal Mass Ejection). Semakin banyak jumlah sunspot di matahari maka semakin besar pula volume dan energi CME yang akan dilontarkan.

 

Sunspot merupakan bintik hitam di permukaan matahari yang terbentuk dilokasi dimana terdapat medan magnet yang cukup besar, dan sunspot bisa berukuran lebih besar dari ukuran bumi. Area bintik hitam ini memiliki suhu 1000 derajat lebih rendah dibandingkan permukaan disekelilingnya dan bisa bertahan hingga 4 bulan. Sedangkan CME (Coronal Mass Ejection) merupakan energi matahari (terdiri dari elektron) yang terlepas dan berhembus keluar menjauhi matahari. Ketika CME dilontarkan dalam jumlah besar melebihi 10 juta ton/detik dengan kecepatan melebihi 500 km/detik maka dia akan berubah menjadi badai matahari.

Proses terjadinya badai matahari sangat dipengaruhi oleh banyak tidaknya keberadaan titik-titik medan magnet. Jalur medan magnet matahari berputar searah dengan rotasi matahari (ke kanan) dan kekuatan magnet matahari selalu mengalami perubahan tergantung pada aktifitas yang ditimbulkan oleh rotasi matahari. Matahari selalu mengalami peningkatan aktifitas setiap 8-15 tahun, dan setiap edaran tersebut, jalur magnetik matahari mengalami kekacauan yang mengakibatkan munculnya bintik-bintik matahari. Pada puncak edaran matahari (solar max) inilah biasanya matahari mulai menyerang dengan badainya dikarenakan pada puncak edaran ini jumlah sunspot semakin banyak sehingga jumlah volume dan energi yang dilontarkan CME juga semakin besar. Ketika edaran bintik matahari meningkat maka cahaya matahari akan melemah, dan sebaliknya, ketika bintik matahari melemah matahari akan bersinar lebih terang bahkan hingga mencapai 1000 kali lipat. Untuk mengetahui lebih mendalam mengenai matahari bisa menilik artikel berikut Mengenal Badai MatahariBadai Matahari Tidak Membahayakan Bumi dan Mengenal Matahari

Conclusion
Kita tidak pernah tau apa yang bisa matahari lakukan pada bumi? walaupun kita sudah memiliki tekhnologi yang begitu maju. Ya. Tekhnologi kita memang semakin maju. Tapi kebanyakan dari kita justru semakin melupakan alam. Lihatlah mereka yang keluar di malam hari, mereka sudah tidak peduli lagi ketika bintang dan bimasakti sudah tidak lagi terlihat. Mereka terlalu sibuk untuk melihat ke atas. Perlu kita ketahui bahwa matahari mendominasi planet kita dalam hal ukuran dan kekuatan. Perubahan sekecil apapun yang terjadi di matahari akan memberikan pengaruh pada bumi. Apapun yang terjadi pada matahari bumi harus mengikutinya. Dan apapun yang terjadi pada bumi manusiapun harus mengikutinya. Setiap pagi matahari terbit untuk membangunkan kita, mengendalikan planet kita, membuat kehidupan terus berjalan, dan yang bisa kita pastikan hanyalah bahwa matahari akan terbit kembali esok hari. Sadarkah, kita hanya mahluk kecil dalam dunia yang begitu amat sangat luasnya, dengan ancaman yang begitu besarnya diluar sana. Semoga dengan ini manusia menjadi semakin sadar betapa kecilnya mereka dihadapan Tuhannya.

Sumber : National Greographic – Solar Blast

Kiki Rakhmawati Z

Mendekatkan diri pada Tuhan dengan memahami alam semesta... Salam ukhuwah...

Leave a Reply