Sejarah Flat Earth

(Resensi Kuliah Astronomi Online Penjelajah Langit)

Sebenarnya bumi kita berbentuk apa? Bentuk bumi yang sebenarnya adalah bulat pepat atau dapat dikatakan bulat gepeng. Namun sudah sejak lama muncul pendapat mengenai flat earth yakni bumi yang berbentuk datar. Belum diketahui pasti siapa yang mencetuskan teori flat earth. Keyakinan flat earth sudah ada sejak lama yang ditandai dengan reruntuhan di Mesir Kuno.

A. Zaman Kuno
1. Mesir Kuno, Israel Kuno, dan Yunani
Dahulu pada zaman Mesir Kuno, peradaban Mesopotamian (abad ke-8 sebelum Masehi) orang-orang di Mesir Kuno beranggapan bahwa dunia mereka berbentuk seperti piring yang dikelilingi oleh laut. Dalam Mesir Kuno, Laut yang mengelilingi daratan disebut Kun (yang berarti laut). Sedangkan daratan disebut sebagai nbwt (yang berarti tanah kering).Pemikiran seperti ini tidak hanya dianut orang Mesir Kuno, namun orang Israel Kuno pun juga mempercayai hal yang sama. Belahan bumi lain juga sama. Pada zaman itu belum ada pemikiran mengenai bumi yang berbentuk bulat. Yunani juga meyakini bahwa bentuk bumi adalah piringan.
2. India Kuno
Namun ada yang berbeda dari bangsa India Kuno yang beranggapan bahwa bumi adalah sebuah piringan yang terdiri dari 4 benua yang dikelompokkan di sekitar Gunung Meru yang bentuknya seperti kelopak bunga.
3. Norwegia Kuno dan Jerman Kuno
Orang Norwegia Kuno dan German Kuno mayakini bahwa bumi itu seperti piringan, namun perbedaannya yakni bumi memiliki pusat atau penunggak sebuah pohon raksasa yang disebut Ygdrassil. Lalu di sekeliling lautannya bersemaya Ular Raksasa yang disebut Jormungadr.

Gambar 1: Ular Raksasa yang disebut sebagai Jormungadr
Gambar 1: Ular Raksasa yang disebut sebagai Jormungadr

4. Cina Kuno
Masyarakat Cina Kuno menganggap bumi berbentuk datar kotak. Kepercayaan bumi datar kotak ini berlangsung sangat lama, hingga pada abad 17 ketika salah seorang astronom Eropa mengenalkan bentuk bumi adalah buat.

B. Zaman Modern
Flat Earth atau bumi datar mulai dikenal lagi ketika seorang penulis bernama Samuel Rowbotham menulis sebuah buku berjudul “Zetetic Astronomy” (Zetetic = Keraguan). Rowbotham juga menghasilkan penelitian yang diakui untuk menunjukkan bahwa efek dari kapal menghilang di bawah garis horizon dapat dijelaskan oleh hukum perspektif dalam kaitannya dengan mata manusia. Pada tahun 1883, Rowbotham mendirikan Zetetic Societies di Inggris dan New York sebagai wadah yang menaungi perkumpulan para penganut Bumi Datar. Kemudian salah satu pengikut dari Rowbotam yakni William Carpenter pada tahun 1864 menerbitkan buku “Theoretical Astronomy Examined and Exposed – Proving the Earth not a Globe” yang ia bagi menjadi 8 bagian. Pada tahun 1885 William Carpenter kembali menerbitkan buku “A Hundred Proofs the Earth is Not A Globe”.

Gambar 2: Buku “A Hundred Proofs the Earth is Not A Globe” karya William Carpenter
Gambar 2: Buku “A Hundred Proofs the Earth is Not A Globe” karya William Carpenter

Kemudian pada tahun 1956, Samuel Shenton mendirikan International Flat Earth Research Society (IFERS) yang lebih dikenal dengan Flat Earth Society (FES). Namun pada tahun 2000an, FES sempat mengalami penurunan dikarenakan terjadi kebakaran pada markas besarnya dan kematian salah satu pengganti Samuel Shenton yakni Charles K. Johnson. Namun pada tahun 2004, FES kembali dibangkitkan sebagai forum website oleh Daniel Shenton. Hal ini menyebabkan peluncuran resmi website dan wiki FES pada tahun 2009.

Leave a Reply