Rembulan Di Dua Malam

(Hikayat Anak Bulan di Kaki Langit bagian 3)

Sebuah kampanye observasi dilangsungkan selama empat hari berturut-turut. Targetnya tunggal: Bulan. Tujuannya: mendokumentasikan perubahan wajah Bulan dalam periode 96 jam berturut-turut dengan selang waktu setiap 24 jam. Dokumentasi ini bermaksud untuk mendeduksi bagaimanakan sebenarnya wajah Bulan secara visual dari hari ke hari di sekitar status Bulan purnama. Dengan Bulan purnama terjadi pada Kamis 2 Agustus 2012 pukul 10:27 WIB, menarik untuk mencermati bagaimana wajah Bulan selama dua malam berturut-turut, masing-masing pada Rabu 1 Agustus 2012 dan Kamis 2 Agustus 2012.

Alhamdulillah cuaca relatif mendukung, sehingga pengambilan gambar dengan memanfaatkan kamera DSLR Nikon D60 dengan lensa asferis Nikon DX dapat berlangsung dengan baik. Setting kamera diatur pada ISO 400, shutter speed 1/500 detik dan f/5,6 dengan tujuan mendapatkan citra secara instan sehingga fitur di permukaan Bulan dapat tergambarkan tanpa pengaruh cahaya yang berlebihan. Citra yang dihasilkan tidak mendapat sentuhan kecuali sekedar mengatur kecerlangan (brightness) dan ketajaman (contrast), sebuah langkah standar dalam fotografi benda langit, dengan menggunakan perangkat lunak Microsoft Office Picture Manager.

Hasil
Pada 1 Agustus 2012 23:36 WIB, citra Bulan berhasil didapatkan. Pada saat itu Bulan belum berstatus purnama dan penulis menyebutnya Bulan Jelang Purnama (BJP). Lebih dari 24 jam kemudian, tepatnya pada 2 Agustus 2012 23:49 WIB, citra Bulan pun berhasil pula diperoleh sebagai Bulan yang telah melewati status purnama dan diistilahkan sebagai Bulan Lepas Purnama (BLP).



Perbandingan citra Bulan diambil dalam waktu berbeda berselang nyaris 24 jam. Nampak bentuk Bulan secara visual tidak bisa dibedakan antara citra sebelah kiri dan kanan. Setting arah mata angin dalam kedua citra adalah identik, yakni atas = utara, bawah = selatan, kiri = timur dan kanan = barat. Sumber : Sudibyo, 2012.

Secara visual amat sangat sulit guna membedakan bentuk Bulan pada dua citra tersebut, karena sama-sama bundar dan menampakkan fitur-fitur permukaan yang sama ketika diidentifikasi. Pada 1 Agustus 2012 pukul 23:36 WIB, fase Bulan adalah 99,59 % yang bermakna 99,59 % dari seluruh wajah Bulan yang menghadap ke Bumi tersinari cahaya Matahari. Maka hanya 0,41 % area di wajah Bulan yang menghadap ke Bumi yang gelap tak tersinari cahaya Matahari. Sementara pada 2 Agustus pukul 23:49 WIB, fase Bulan adalah 99,43 % yang bermakna 99,43 % dari seluruh wajah Bulan yang menghadap ke Bumi tersinari cahaya Matahari. Maka 0,57 % area di wajah Bulan yang menghadap ke Bumi pada saat itu adalah gelap tak tersinari cahaya Matahari.

Bentuk Bulan yang kita lihat dari Bumi amat bergantung kepada nilai fase Bulan. Apa yang selama ini kita kenal sebagai Bulan dalam status Bulan sabit adalah Bulan dengan nilai fase Bulan lebih kecil dibanding 50 %. Demikian halnya Bulan dengan status Bulan benjol/perbani, adalah Bulan dengan nilai fase Bulan lebih besar dari 50 % dan belum mencapai status purnama. Sementara Bulan dalam status Bulan purnama adalah Bulan dengan nilai fase Bulan mencapai maksimum, yang bernilai lebih dari 99 % namun tak pernah mencapai 100 % kecuali dalam kasus khusus berupa Gerhana Bulan Total.

Dalam 24 jam berturut-turut itu perubahan nilai fase Bulan adalah amat kecil. Sehingga wajar jika secara visual amat sulit membedakan bentuk Bulan di antara dua citra tersebut. Yang menarik, Bulan sebagai BJP ternyata memiliki nilai fase Bulan lebih besar dibanding Bulan sebagai BLP. Padahal dari sisi kalender Hijriyyah, Bulan sebagai BLP berada dalam tanggal yang lebih besar (lebih tua) dibanding Bulan sebagai BJP.

Salah Kaprah tentang Purnama dan Titik Tengah
Hasil observasi ini secara gamblang memperlihatkan, amat sulit bagi mata manusia guna membedakan bentuk Bulan pada 24 jam berturut-turut di antara malam tanggal 1 dan 2 Agustus 2012. Ini sekaligus memperkuat fakta: mata manusia bukanlah detektor yang baik dalam mengidentifikasi perubahan bentuk Bulan khususnya dalam situasi jelang dan lepas purnama.

Diagram waktu yang menunjukkan status Bulan purnama tidak terletak tepat di tengah-tengah selang waktu antara ijtima’ Juli dan Agustsu 2012. Sumber : Sudibyo, 2012.

Hasil observasi selama empat hari berturut-turut juga mengungkap fakta lain yang mengejutkan. Perhitungan, yang didukung pula oleh data observasi khususnya pada malam 31 Juli 2012 dan 3 Agustus 2012, memperlihatkan status Bulan purnama bukanlah titik tengah bagi lunasi khususnya untuk Juli dan Agustus ini. Jika sebuah lunasi didefinisikan sebagai selang waktu di antara dua konjungsi Bulan-Matahari (ijtima’) yang berurutan, maka lunasi Juli-Agustus ini diawali dari ijtima’ pada 19 Juli 2012 pukul 11:24 WIB dan berakhir pada ijtima’ 17 Agustus 2012 pukul 22:54 WIB mendatang. Dengan demikian umur lunasi Juli-Agustus adalah 29 hari 11 jam 30 menit. Maka titik tengah lunasi adalah angka tersebut dibagi dua, setara dengan 14 hari 17 jam 45 menit. Jika dihitung sejak ijtima’ 19 Juli 2012 pukul 11:24 WIB, titik tengah ini jatuh pada 3 Agustus 2012 pukul 05:09 WIB.

Namun kenyataannya, status Bulan purnama sudah dicapai beberapa belas jam lebih awal tepatnya pada 2 Agustus 2012 pukul 10:27 WIB. Dengan demikian dapat dihitung juga bahwa sejak ijtima’ 19 Juli 2012 ke status Bulan purnama, selang waktunya adalah 13 hari 23 jam 3 menit. Sementara sejak status Bulan purnama ke ijtima’ berikutnya pada 17 Agustus 2012 pukul 22:54 WIB, selang waktunya adalah 15 hari 12 jam 27 menit. Nampak jelas bahwa status Bulan purnama tidak tepat bersamaan dengan posisi titik tengah sebuah lunasi, setidaknya untuk lunasi Juli-Agustus 2012 ini.

Ma'rufin Sudibyo

Orang biasa saja yang suka menatap bintang dan sedang mencoba menjadi komunikator. Saat ini sebagai ketua tim ahli Badan Hisab dan Rukyat Daerah (BHRD) Kebumen, Jawa Tengah. Aktif pula dalam Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Falak Rukyatul Hilal Indonesia (LP2IF RHI), Ikatan Cendekiawan Falak Indonesia (ICFI), Jogja Astro Club dan International Crescent Observations Project(ICOP). Juga sebagai pembimbing dan pendamping Forum Kajian Ilmu Falak (FKIF) Gombong dan Majelis Kajian Ilmu Falak (MKF) Kebumen, keduanya di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Leave a Reply