Pleiades


Pernahkah engkau di musim penghujan menyaksikan langit malam nan cerah dibelahan langit bagian utara. Dapatkah engkau menemukan kerumunan bintang yang tampak seperti sarang lebah? Jika engkau menemukan itu maka kau telah melihat lintang kartika. Apa itu lintang kartika dan siapakah lintang kartika sebenarnya?

Ketika langit di musim penghujan tampak cerah, Pleiades akan tampak seperti sarang lebah dilangit malam. Sumber : Abu Yahya Jamali 2015.
Ketika langit di musim penghujan tampak cerah, Pleiades akan tampak seperti sarang lebah di langit malam. Sumber : Abu Yahya Jamali 2015.

Di langit musim penghujan lintang kartika atau benda langit yang familiar dengan sebutan Pleiades merupakan gugus bintang terbuka yang berada di rasi bintang Taurus. Nama Pleiades sendiri datang dari kisah mitos (mitologi) bangsa Yunani. Mitologi bangsa Yunani menyebutkan bahwa Pleiades adalah tujuh bidadari. Mereka adalah Maia, Electra, Alcyone, Taygete, Asterope, Celaeno dan Merope. Ketujuh bidadari tersebut merupakan putri dari dewa Atlas sang penyangga langit. Setelah Pleiades bertemu dengan Orion, ketujuh bidadari dan ibunya menjadi objek buruan bagi sang pemburu. Terpesona dengan kecantikan wanita-wanita muda itu, orion mengejar ketujuh bidadari beserta ibunya hingga kemuka Bumi. Melihat hal itu terjadi, Zeus mengubah mereka menjadi sekawanan burung merpati yang diletakkan di surga. “Sudah jatuh tertimpa tangga” itulah yang dialami oleh Pleiades beserta ibunya. Penduduk olimpus(Olympian) menambahkan hukuman kepada mereka sebagai akibat meninggalkan surga tanpa ijin, para olympian menghukumnya untuk tetap menunaikan kewajiban mereka yaitu menjaga surga namun tidak didalam surga melainkan dari Bumi tempat manusia tinggal. Kini mereka tampak sebagai gugusan bintang di rasi Taurus. Jika dilihat menggunakan mata telanjang, hanya terdapat 6 bintang yang dapat terlihat. Bangsa Yunani kuno ternyata memiliki penjelasan tersendiri terkait tidak tampaknya 1 bintang diberbagai versi. Beberapa diantaranya adalah semua Pleiades menjadi selir para dewa-dewa terkecuali Merope. Merope meninggalkan saudara-saudaranya karena ia merasa malu. Penjelasan lainnya menyatakan bahwa tidak tampaknya satu bintang berkaitan dengan mitos Electra seorang leluhur rumah kerajaan Troy. Setelah Troy mengalami masa kehancuran, duka meliputi Electra yang meninggalkan saudara-saudaranya dan ia di ubah menjadi komet. Itulah mitologi dari bangsa Yunani. Lantas bangaimana dengan bangsa Indonesia? Di Indonesia khususnya masyarakat Jawa, pada zaman dahulu menyebut gugusan bintang di rasi bintang Taurus ini sebagai Lintang Kartika. Dan berdasarkan informasi yang ada, formasi dari bintang-bintang yang berada di dalam gugus bintang Pleiades mengilhami Sri Sultan Hamengku Buwono ke IX untuk menciptakan tarian sakral Bedaya ketawang milik kraton Yogyakarta. Selain mitologi baik dari Yunani maupun dari ibu pertiwi, kisah mitologi di berbagai belahan dunia yang berkaitan dengan Pleiades-pun sangat beragam.

Beberapa pengamatan Pleiades menggunakan teleskop di masa lalu diawali oleh Galileo Galilei. Galileo merupakan orang pertama yang mengarahkan teleskopnya ke Pleiades. Ia menemukan bahwa Pleiades ternyata kumpulan bintang-bintang nan redup. Ia mengumumkan hasil pengamatannya pada risalah “Sidereus Nuncius” bulan Maret tahun 1610. Dalam risalah itu Galileo membuat sebuah sketsa Pleiades dengan 36 bintang-bintang didalamnya.

Sketsa Pleiades oleh Galileo. Sumber : astronomy.ohio-state.edu
Sketsa Pleiades oleh Galileo. Sumber : astronomy.ohio-state.edu

Di tahun 1771 seorang astronom perancis sekaligus pemburu komet yaitu Charles Messier mengkatalogkan 100 objek-objek astronomis di langit dan satu diantaranya adalah gugus bintang Pleiades. Dalam katalog Messier, Pleiades termasuk ke dalam objek Messier dengan urutan 45 atau para astronom menyebutnya sebagai M45(Messier 45). Pleiades atau M45 sejatinya termasuk ke dalam gugus bintang terbuka yang terdiri atas ratusan bintang didalamnya dan hanya 6 yang tampak oleh mata telanjang. Dalam skala kosmos umur dari gugus bintang Pleiades tergolong masih muda. Bintang-bintang di dalam gugus bintang Pleiades diperkirakan tercipta sekitar 100 juta tahun yang lalu atau sekitar 1/50 dari umur Matahari kita. Hal ini dapat kita lihat pada bintang-bintang di Pleiades yang masih memiliki jarak antar bintang yang cukup renggang. Selain itu, sisa-sisa materi pembentuk bintang berwarna biru masih dapat kita temukan di sekitar bintang-bintang dalam gugus bintang Pleiades. Diperkirakan jarak antara Matahari dan Pleiades sejauh 425 tahun cahaya atau sekitar 130 parsek. Secara kasat mata, Pleiades merupakan gugus bintang paling terang yang dapat diamati dengan mata telanjang di musim penghujan. Ia dapat kita temukan di rasi bintang Taurus dengan beberapa bintang terang diantaranya seperti Alcyone, Atlas, Electra, Maia, Merope dan Taygeta.

Peta Pleiades. Sumber : Hubblesite.org
Peta Pleiades. Sumber : Hubblesite.org

Referensi
Pleiade. “The Pleiades in mythology”. 19 Desember 2015. http://www.pleiade.org/
Gibson. “The Pleiades”. 19 Desember 2015. http://www.naic.edu/~gibson/pleiades/

Eko Hadi G

Penulis dan editor di Kafe Astronomi.com yang mendalami dunia astronomi amatir semenjak tahun 2010. Selain astrofotografi, Web Kafe Astronomi.com merupakan salah satu wujud kecintaannya kepada dunia astronomi di Indonesia. Email : [email protected] Fb : Eko Hadi G

Leave a Reply