Parade Gerhana 2011

Sebuah peristiwa langka akan berlangsung di langit. Dalam 30 hari ke depan, terhitung sejak 2 Juni 2011 waktu Indonesia, secara berturut-turut akan terjadi tiga gerhana, masing-masing Gerhana Matahari Sebagian 2 Juni 2011, Gerhana Bulan Total 16 Juni 2011 dan Gerhana Matahari Sebagian 1 Juli 2011. Tiga gerhana yang berlangsung secara berturut-turut kadang disebut sebagai tripel gerhana atau parade gerhana. Dari enam gerhana yang bakal terjadi di tahun 2011, tiga diantaranya merupakan bagian dari parade gerhana.

Gerhana terjadi ketika Matahari, Bulan dan Bumi terletak dalam satu garis lurus (garis syzygy) sehingga pancaran sinar Matahari terhalangi entah oleh Bumi ataupun Bulan. Ketika Bulan berada di antara Bumi dan Matahari, terjadilah Gerhana Matahari. Sebaliknya ketika Bumi ada di antara Bulan dan Matahari, terjadilah Gerhana Bulan. Disebabkan oleh diameter Bulan yang lebih kecil dibanding Bumi, maka ketika terjadi Gerhana Matahari, hanya sebagian kecil permukaan Bumi yang mampu melihatnya. Sebaliknya ketika terjadi Gerhana Bulan, maka sebagian permukaan Bumi (khususnya yang berada dalam kondisi malam hari) mampu menyaksikannya.



Secara astronomis gerhana terjadi tatkala Bulan menempati titik node, yakni titik potong orbitnya dengan ekliptika (bidang edar Bumi mengelilingi Matahari), sekaligus garis syzygy. Gerhana Matahari selalu terjadi pada saat konjungsi (ijtima’ atau Bulan baru), sementara Gerhana Bulan juga selalu terjadi saat oposisi (istikbal atau Bulan purnama). Disebabkan orbit Bulan tidaklah sejajar dengan ekliptika, melainkan miring dengan sudut kemiringan (inklinasi) 5 derajat, maka tidak setiap Bulan purnama terjadi Gerhana Bulan dan tidak setiap Bulan baru terjadi Gerhana Matahari. Dalam setahun Syamsiyyah (Masehi) maksimum hanya bisa terjadi tujuh gerhana. Namun tatkala Bulan menempati titik node yang menyebabkan terjadinya Gerhana Matahari, maka bisa dipastikan dalam 14 hari berikutnya Bulan akan menempati titik node yang menyebabkan Gerhana Bulan. Pun demikian sebaliknya. Pada kesempatan tertentu (yang jarang terjadi), Bulan bisa secara berturut-turut menempati tiga titik node dan inilah parade gerhana, yang bisa berupa kombinasi Gerhana Matahari-Gerhana Bulan-Gerhana Matahari maupun Gerhana Bulan-Gerhana Matahari-Gerhana Bulan.

Parade Gerhana 2011 dimulai dengan Gerhana Matahari Sebagian 2 Juni 2011. Gerhana ini hanya bisa disaksikan di sekitar kawasan lingkar kutub utara, yakni sebagian Russia, sebagian Cina, Jepang, Korea, Alaska dan sebagian Canada. Gerhana diawali dengan kontak awal penumbra pada pukul 02:25 WIB dan berakhir pada pukul 06:07 WIB dengan kontak akhir penumbra. Puncak gerhana terjadi pada pukul 04:16 WIB yang hanya bisa disaksikan di pantai utara Russia berdekatan dengan pulau Novaya Zemla (tepatnya pada koordinat 67,783 LU 46,773 BT), dimana cakram Bulan menutupi hingga 60 % bundaran Matahari.
 Peta kawasan yang bisa menyaksikan Gerhana Matahari Parsial (Sebagian) 2 Juni 2011, yakni sebagian Asia (sebagian Rusia, sebagian Cina, Jepang, Korea) dan sebagian Amerika Utara (sebagian Canada dan Alaska). gerhana akan diawali pada 2 Juni 2011 pukul 02:25 WIB dan berakhir pada pukul 06:07 WIB. Puncak gerhana berlangsung pukul 04:16 WIB dengan bagian Matahari yang tertutupi cakram Bulan adalah (maksimum) 60%

Berikutnya disusul Gerhana Bulan Total 16 Juni 2011. Gerhana ini bisa disaksikan dari Australia, Asia, Afrika, Eropa dan sebagian Amerika (yakni Amerika Selatan). Namun keseluruhan tahap gerhana hanya bisa disaksikan dari Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika Timur, Afrika Selatan dan Afrika Tengah. Gerhana diawali dengan kontak awal penumbra pada pukul 00:25 WIB. Namun gerhana baru bisa disaksikan secara kasat mata saat terjadi kontak awal umbra pada pukul 01:23 WIB, saat bayangan Bumi secara perlahan mulai menutupi Bulan purnama. Puncak gerhana terjadi pada pukul 03:12 WIB dengan Bulan dalam kondisi gelap total. Berangsur-angsur kemudian Bulan mulai terlihat lagi dan secara kasat mata kembali sebagai Bulan purnama pada pukul 05:01 WIB seiring kontak akhir umbra. Namun gerhana secara keseluruhan baru berakhir pada pukul 05:59 WIB saat kontak akhir penumbra terjadi.

Peta Visibilitas Gerhana Bulan Total 16 Juni 2011 bagi Bumi dalam proyeksi Mercator.

Indonesia bisa menyaksikan gerhana ini tatkala Bulan sedang bersiap-siap terbenam dari langit barat. Awal gerhana (secara kasat mata) bisa disaksikan dari seluruh wilayah Indonesia, pun demikian dengan puncak gerhana. Namun akhir gerhana (secara kasat mata) hanya bisa disaksikan dari Sumatra, Jawa, Kalimantan dan sebagian Nusa Tenggara. Di wilayah yang lain gerhana berakhir kala Bulan sudah terbenam. Mengingat seluruh wilayah Indonesia bisa menyaksikan gerhana (meskipun ada yang tidak lengkap tahapnya), maka ketentuan shalat gerhana bulan pun berlaku.

Gerhana yang terakhir dari parade gerhana 2011 ini adalah Gerhana Matahari Sebagian 1 Juli 2011. Gerhana ini hanya bisa disaksikan di sekitar kawasan lingkar kutub selatan, namun tak ada satupun daratan yang terkenai bayangan gerhana kecuali salah satu ujung Antartika.Gerhana diawali dengan kontak awal penumbra pada pukul 14:54 WIB dan berakhir pada pukul 16:23 WIB dengan kontak akhir penumbra. Puncak gerhana terjadi pada pukul 15:38 WIB yang hanya bisa disaksikan di tengah perairan Samudera Hindia tepatnya pada koordinat 65,173 LU 28,748 BT, dimana cakram Bulan hanya menutupi 10 % bundaran Matahari.

Gerhana Matahari Sebagian 1 Juli 2011. Hanya bisa disaksikan di sekitar kawasan lingkar kutub selatan, namun tak ada satupun daratan yang terkenai bayangan gerhana. Gerhana diawali kontak awal penumbra pukul 14:54 WIB dan berakhir pada pukul 16:23 WIB dengan kontak akhir penumbra. Puncak gerhana pukul 15:38 WIB dimana cakram Bulan hanya menutupi 10 % bundaran Matahari.

Ma'rufin Sudibyo

Orang biasa saja yang suka menatap bintang dan sedang mencoba menjadi komunikator. Saat ini sebagai ketua tim ahli Badan Hisab dan Rukyat Daerah (BHRD) Kebumen, Jawa Tengah. Aktif pula dalam Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Falak Rukyatul Hilal Indonesia (LP2IF RHI), Ikatan Cendekiawan Falak Indonesia (ICFI), Jogja Astro Club dan International Crescent Observations Project(ICOP). Juga sebagai pembimbing dan pendamping Forum Kajian Ilmu Falak (FKIF) Gombong dan Majelis Kajian Ilmu Falak (MKF) Kebumen, keduanya di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Leave a Reply