Observasi Hujan Meteor Geminids 2012

Untuk pengamatan hujan meteor Geminids tahun ini, tim JAC melakukan observasi pada hari Kamis, 13 Desember 2012. Sesuai kesepakatan, tim 1 yang berjumlah 8 orang berangkat dari markas pukul 20.30 WIB, kemudian bertemu dengan tim 2 yang berjumlah 17 orang di pasar seni Gabusan, lalu dilanjutkan ke lokasi pengamatan.

Awalnya kami ingin mencoba melakukan pengamatan di lokasi dengan koordinat -8.003424, 110.310534 (buka google map untuk lebih jelas). Namun, karena belum melakukan survey sebelumnya, ternyata lokasi tersebut kurang cocok untuk digunakan sebagai lokasi observasi. Wal hasil, kami memutuskan untuk melakukan observasi di pantai Parangkusumo.



Sesampainya di TKP, ternyata cuaca masih belum mendukung untuk dilakukan pengamatan. Kondisi cuaca berawan, sementara bintang yang terlihat hanyalah bintang-bintang bermagnitudo terang seperti Canopus, Sirius, Rigel dan Procyon. Oleh karena itu, untuk mengisi waktu, kami mencoba mengoptimalkan observasi kali ini dengan mengadakan kultum astronomi membahas jam bintang, equatorial dan kelahiran tata surya sembari menunggu munculnya rasi bintang Gemini.

Kultum berjalan lancar & atraktif dengan bantuan visualisasi menggunakan tablet PC. Seusai kuliah, walaupun awan masih menutup sebagian langit, kami memutuskan untuk mulai melakukan observasi pada pukul 00.  00 WIB dengan metode baru yang diajarkan oleh pak Ma’rufin lewat salah satu situs jejaring sosial.

Dalam metode ini, setiap observer diwajibkan membawa beberapa peta langit & sebuah ballpoint atau pesil. Kemudian tim dibagi menjadi 4 kelompok, setiap kelompok mengamati 4 bagian langit yang berbeda. Kelompok 1 mengamati langit bagian utara, kelompok 2 mengamati langit bagian timur, kelompok 3 mengamati langit selatan, dan kelompok 4 mengamati langit bagian barat. Lalu setiap observer harus mencatat arah pergerakan meteor yang terlihat dengan cara mencoretkan garis pada lembar peta langit sesuai dengan pergerakan meteor yang masing-masing observer lihat, dan mengganti lembaran peta yang sudah dicoret-coret dengan lembaran peta yang baru setiap satu jam pengamatan.

Pengamatan dimulai, semua observer menempati lokasi & posisi masing-masing, namun ketika akan membandingkan dengan keberadaan yang aslinya, beberapa observer sempat bingung karena tidak membawa jam bintang waktu lokal. Untungnya di hape sudah terpasang jam bintang waktu lokal.

Kebingungan masih berlanjut dengan tidak adanya skala sudut Rightaccesion di peta langit tersebut. Akhirnya setelah mensimulasikan sebentar diatas kertas & angan-angan, kami menambahkan skala sudut Rightaccesion. Pokoknya dipinggir garis yang lurus pada peta dibagi menjadi 24 jam. Setelah dicocokkan ternyata benar waktu menunjuk jam 6.30an dan dicocokkan ke peta langit sudah cocok dengan apa yang ada di langit.

Setelah itu software Stellarium yang telah terpasang di tablet PC ternyata bisa di printscreen, dan untungnya lagi hasil printscreen itu bisa diorek-orek pake jari. Canggih banget lah pokoknya. Akhirnya peta langit yang udah di dicetak tadi tidak semuanya digunakan & beralih ke tablet PC hingga observasi berkakhir pada pukul 03.30 dengan hasil 64 meteor yang tidak semuanya merupakan bagian dari hujan meteor Geminids.

00.00-01.00

01.00-02.00

02.00-03.00

Dari kejadian tersebut, kita harus melek teknologi, tetapi meskipun ada “buku canggih” yang sangat membantu kita juga harus ngerti bagaimana menggunakan peta langit. Bawa peta langit tapi tidak bawa jam bintang ya percuma. Selain itu, sebelum melakukan observasi, kita harus memastikan bahwa tempat yang akan kita gunakan benar-benar layak untuk dipake observasi. Semoga kita semakin jauh meninggalkan predikat ‘AMATIR’ meskipun tetap amatiran.

Leave a Reply