Mitologi Gerhana di Pulau Jawa dan Bali

Setiap wilayah di muka Bumi ini pasti memiliki cerita tersendiri tentang Gerhana baik gerhana Matahari maupun gerhana Bulan. Di Indonesia yang memiliki banyak suku dan budaya tentunya juga memiliki keanekaragaman cerita rakyat atau mitologi yang berkaitan dengan gerhana. Salah satu mitologi gerhana yang cukup terkenal adalah mitologi gerhana di pulau Jawa dan pulau Bali yakni sang raksasa bernama Rahu atau Kala Rahu yang menelan Matahari dan Bulan sebagai wujud kebencian Rahu kepada dewa Matahari dan dewa Bulan. Berikut ini adalah kisah Rahu yang di kutip dari sebuah buku Silsilah Wayang Purwa Mawa Carita.

Rahu adalah raksasa atau masyarakat Jawa menyebutnya sebagai “Buto” yang lahir dari pernikahan Dewi Sinhika dan Maharsi Kasyapa. Rahu dengan Bathara Wisnu adalah satu ayah beda ibu sehingga keduanya masih memiliki hubungan darah. Dari hasil pernikahannya dengan Maharsi Kasyapa, Dewi Sinhika memiliki 4 orang putra yakni Sucandra, Candrahantri, Candrapramardana dan yang terakhir adalah Rahu.

Rahu sangat benci sekali dengan Bathara Surya(Dewa Matahari) dan Bathara Soma(Dewa Bulan). Saking bencinya tak jarang Matahari dan Bulan sering dimakan Rahu yang telah abadi dengan bentuk berupa kepala raksasa. Kebencian Rahu terhadap kedua dewa tersebut berawal dari pengaduan keduanya kepada dewa wisnu yang menyebabkan leher rahu terpotong dan abadi dengan hanya memiliki kepala saja tanpa badan maupun kaki tangan.

Tokoh Kala Rahu dalam bentuk wayang kulit. Kredit : Faizal N Singgih
Tokoh Kala Rahu dalam bentuk wayang kulit. Kredit : Faizal N Singgih

Disebutkan pada suatu hari berkumpulah para dewa untuk meminum air keabadian yang bernama “Tirta Amreta.” Melihat hal itu Rahu yang memiliki wujud raksasa menjelma menjadi dewa agar dapat meminum “Tirta Amreta” dengan harapan kekal abadi seperti yang di alami oleh para dewa. Setelah Rahu berganti wujud menjadi dewa dengan percaya diri si raksasa besar ini ikut berkumpul bersama para dewa. Seluruh dewa saat itu tidak menyadari bahwa sesungguhnya Rahu adalah raksasa bukan dewa. Rahu berhasil menipu seluruh dewa dan dapat meminum “Tirta Amreta.”

Cakra Dewa Wisnu menebas leher Sang Kala Rahu. . Courtesy : Ramanarayanadatta astri
Cakra Dewa Wisnu menebas leher Sang Kala Rahu. . Courtesy : Ramanarayanadatta astri

Baru seteguk Tirta Amreta yang diminumnya, dua dewa yakni dewa Matahari dan dewa Bulan kemudian menyadari bahwa Rahu sejatinya bukanlah dewa melainkan raksasa. Mengetahui hal tersebut keduanya memberitahu dewa Wisnu bahwa Rahu adalah raksasa. Dengan gerak secepat kilat, dewa Wisnu mengeluarkan senjata cakra dan melemparkannya ke arah leher Rahu hingga cakra tersebut memotong habis leher Rahu. Kini tubuhnya terbelah menjadi dua bagian yaitu kepala dan badan. Hal tersebut dilakukan oleh dewa Wisnu agar Tirta Amreta tidak masuk kedalam tubuh rahu yang tergolong Asura atau kalangan bukan dewa melainkan raksasa. Namun apa yang dilakukan oleh dewa Wisnu ternyata sudah terlambat. Tirta Amreta ternyata telah diminum dan telah sampai di tenggorokan Rahu. Kepala Rahu yang telah tersentuh Tirta Amreta tetap abadi dan mengembara ke angkasa sedang badannya mati dan jatuh ke Bumi hingga suaranya bagaikan gunung yang longsor.

Kebencian Rahu terhadap dewa Matahari dan Bulan muncul setelah kepalanya terpenggal akibat pengaduan kedua dewa tersebut. Rahu yang hanya berwujud kepala raksasa tanpa tubuh dapat terbang ke angkasa dan akan selalu mengejar-ngejar Bulan dan Matahari. Jika Matahari dan Bulan tertangkap maka tak segan-segan Rahu akan langsung memakannya dan hal inilah yang menyebabkan adanya gerhana.

Menurut cerita rakyat yang telah turun temurun(Gugon tuhon), Saat leher Rahu di tebas oleh dewa Wisnu tubuh Rahu jatuh ke tanah dan berubah menjadi lesung. Sejak saat itu orang-orang pada zaman dahulu meyakini bahwa dengan memukul lesung berkali-kali sama halnya seperti memukul-mukul tubuh atau perut Rahu. Karena perutnya dipukuli, kepala Rahu yang sedang memakan Bulan atau Matahari mendadak menjadi pusing mabuk kepayang dan masyarakat berharap agar sesegera mungkin Rahu memuntahkan kembali Bulan atau Matahari yang baru dimakannya sehingga Bulan atau Matahari bersinar kembali seperti sedia kala.

Ilustrasi mitologi saat gerhana Matahari maupun gerhana Bulan. Kredit : Eko Hadi G
Ilustrasi mitologi gerhana Matahari maupun gerhana Bulan. Kredit : Eko Hadi G

Selain menggunakan lesung masyarakat Jawa juga menggunakan kentongan dan memukul batang pohon kelapa untuk menciptakan bunyi bunyian. Ketika gerhana telah usai masyarakatpun berhenti memukul lesung dan kentongan sebagai tanda bahwa Rahu/batara kala telah memuntahkan Bulan maupun Matahari. Selain nama “Rahu”, masyarakat jawa juga sering menyebut raksasa ini sebagai Bathara Kala namun bukan Bathara Kala putra bungsu dari Sanghyang Manikmaya.

Kala Rahu Versi Pulau Bali
Kisah ini terjadi saat para raksasa dan para Dewa bekerja sama mengaduk lautan susu untuk mencari “Tirtha Amertha” atau Tirtha Kamandalu. Konon siapa saja yang meminum tirtha Amertha maka dia akan abadi. Maka setelah tirtha Amertha didapatkan kemudian air keabadian tersebut dibagi rata. Dewa yang bertugas membagi tirtha Amertha adalah Dewa Wisnu yakni dengan menyamar menjadi gadis cantik, lemah gemulai. Dalam kesepakatan itu diatur bahwa para Dewa duduk dibarisan depan sedangkan para Raksasa dibarisan belakang.

Terdapatlah Raksasa bernama “Kala Rahu” yang menyusup dibarisan para Dewa, dengan cara merubah wujudnya menjadi Dewa. Namun penyamarannya ini segera diketahui oleh Dewa Candra atau Dewa Bulan. Maka ketika tiba giliran Raksasa Kala Rahu mendapatkan “Tirtha Keabadian”, disitulah Dewa Candra berteriak. “Dia itu bukan Dewa, dia adalah Raksasa Kala Rahu”. Namun sayang tirtha itu sudah terlanjur diminum. Maka tak ayal lagi Cakra Dewa Wisnu menebas leher Sang Kala Rahu. Leher Kala Rahu telah tersentuh oleh Tirtha Keabadian sehingga pantang baginya bersentuh oleh kematian. Wajahnya tetap hidup dan melayang-layang diangkasa. Namun tubuhnya mati karena belum sempat tersentuh oleh Tirtha Amertha. Sejak saat itu dendamnya terhadap Dewa Bulan tak pernah putus-putus, dia selalu mengincar dan menelan Dewa Bulan dikala Purnama. Namun karena tubuhnya sudah tidak ada lagi dan yang tersisa hanya kepala maka sang rembulan muncul kembali kepermukaan. Begitulah setiap Sang Kala Rahu menelan Dewa Bulan dan terjadilah Gerhana.

Referensi :
S Padmosoekotjo. 1979. Silsilah Wayang Purwa Mawa Carita jilid 1. CV Citra Jaya: Surabaya. hlm 135 & 136.
Susilowati, Heni. Raksasa Kala Rahu Menela Bulan Terjadi Gerhana. 22 Januari 2016. http://www.parissweethome.com/bali/cultural_my.php?id=17

Eko Hadi G

Penulis dan editor di Kafe Astronomi.com yang mendalami dunia astronomi amatir semenjak tahun 2010. Selain astrofotografi, Web Kafe Astronomi.com merupakan salah satu wujud kecintaannya kepada dunia astronomi di Indonesia. Email : [email protected] Fb : Eko Hadi G

Leave a Reply