[Referensi]
Revisi terakhir : Mei 2018

Apa yang ada di benak anda saat pertama kali mendengar kata teleskop? Bentuknya besar, seperti corong, diintip dari belakang dan tentunya untuk melihat bintang, Bulan, planet dan Matahari. Teleskop merupakan instrumen yang dibuat oleh manusia untuk mengamati benda-benda yang terletak dikejauhan khususnya benda-benda yang berada di luar angkasa. Di awal teleskop ditemukan, bentuknya memang seperti corong dan di intip dari belakang. Namun setelah berbagai kelemahan serta cacat optik muncul di era teleskop Galileo maka pengembangan teleskopun mulai mengubah teleskop itu sendiri. Mulai dari bentuk teleskop hingga media pengumpul cahaya yang digunakannya.

Beragam jenis teleskop optik mulai dari reflektor, refraktor hingga katadioptri. Kredit : Space.com

Secara garis besar teleskop optik terbagi menjadi 3 jenis teleskop yaitu teleskop optik yang menggunakan lensa atau umumnya disebut sebagai teleskop refraktor (dioptric telescope), kemudian teleskop optik yang menggunakan cermin yang disebut sebagai teleskop reflektor (Catoptrics Telescope) dan terakhir teleskop optik yang menggunakan cermin dan lensa atau yang disebut dengan teleskop katadioptri(Catadioptry).

Teleskop Refraktor

Teleskop jenis refraktor. Kredit : Celestron.com

Teleskop refraktor merupakan jenis teleskop yang pertama kali ditemukan di dunia dari ketiga jenis teleskop yang ada. Teleskop refraktor menggunakan lensa sebagai media untuk mengumpulkan cahaya. Umumnya teleskop refraktor menggunakan dua buah lensa utama yaitu lensa objektif yang diletakkan di bagian depan tabung teleskop dan lensa okuler yang berada di bagian belakang tabung teleskop. Teleskop jenis inilah yang sering menjadi asumsi bagi kebanyakan orang tentang bentuk teleskop itu sendiri. Salah satu kelebihan yang dimiliki oleh teleskop refraktor terletak pada kemampuannya memisahkan dua objek yang berada dikejauhan. Sebagai contoh pada pengamatan bintang ganda Alpha Centauri. Jika kita melihat bintang alpha centauri dengan menggunakan mata telanjang, kita akan melihat bintang tersebut tampak sebagai satu kesatuan bintang. Namun jika dilihat dengan menggunakan teleskop refraktor, bintang Alpha Centauri akan tampak sebagai dua bintang yang saling berdekatan. Teleskop refraktor sangat cocok digunakan untuk pengamatan objek-objek planetary alias objek yang memiliki cahaya terang seperti Bulan, Planet, Bintang terang, Matahari(tentunya dengan filter matahari) dan obyek-obyek terang lainnya. Teleskop refraktor tentunya juga memiliki kelemahan yaitu munculnya aberasi kromatik dan aberasi sferis yang disebabkan oleh cacat lensa. Aberasi kromatik merupakan cacat lensa yang menciptakan warna pelangi disekitar bayangan benda langit. Namun seiring berkembangnya zaman, kini aberasi kromatik dapat dihindari dengan menambahkan lensa korektor yang berada tepat di bagian belakang lensa obyektif.

Teleskop Reflektor

Teleskop jenis reflektor. Kredit : Skywatcher.com

Teleskop reflektor dikembangkan setelah teleskop refraktor diciptakan. Alasan utamanya terletak pada kelemahan yang ditimbulkan oleh lensa di zaman galileo yaitu aberasi kromatik. Teleskop reflektor dikembangkan oleh Sir Issac Newton dengan tujuan yang tak lain adalah ingin menghilangkan kelemahan teleskop yang dimiliki jenis teleskop refraktor. Alhasil Issac Newton menggunakan cermin sebagai media pengumpul cahaya. Teleskop reflektor merupakan teleskop yang menggunakan cermin parabolik sebagai media pengumpul cahaya. Jika pada teleskop refraktor letak pengumpul cahaya yang berupa lensa terdapat di bagian depan tabung teleskop maka letak pengumpul cahaya pada teleskop reflektor yang berupa cermin parabolik justru terletak di bagian belakang tabung teleskop. Umumnya pada teleskop reflektor diletakkan cermin tambahan atau cermin sekunder yang diletakkan dibagian depan. Fungsinya untuk membelokkan seluruh berkas cahaya kearah samping atau ke arah pengamat. Cermin sekunder dapat berupa cermin datar, cermin parabolik maupun cermin hiperbolik bergantung pada desain teleskop reflektor yang digunakan. Kelebihan yang dimiliki oleh teleskop reflektor terletak pada kemampuan pengumpulan cahaya yang amat banyak. Sehingga teleskop jenis ini sangat cocok untuk pengamatan benda-benda langit yang redup seperti komet, nebula dan galaksi. Namun teleskop reflektorpun juga memiliki kelemahan yaitu adanya koma, abrasi sferis dan astigmatisme. Koma adalah cacat optik dimana sebuah bintang tampak tidak berbentuk sebuah titik melainkan tampak seperti komet.

Teleskop Katadioptry

Teleskop jenis Schmidt-Cassegrain. Kredit : Meade.com

Nah karena semua teleskop(reflektor dan refraktor) memiliki kelemahan dan kelebihan, bagaimana jika keduanya digabungkan saja? Penggabungan atau kombinasi antara cermin dan lensa sebagai media pengumpul cahaya akan melahirkan sebuah jenis teleskop baru yang disebut sebagai teleskop katadioptri(Catadioptry). Pada teleskop katadioptri, media pengumpul cahaya yang digunakan merupakan gabungan dari kombinasi sistem optik lensa dan cermin dimana lensa difungsikan sebagai korektor dan cermin sebagai pengumpul cahaya. Desain teleskop Schmidt Cassegrain merupakan salah satu contoh desain teleskop yang menggunakan sistem optik katadioptri. Keunggulan dari jenis teleskop katadioptri terletak pada kemampuannua dalam mengoreksi cacat-cacat optik seperti aberasi sferis, aberasi kromatik dan cacat-cacat optik lainnya. Selain itu, keduanya memiliki kelebihan apa yang dimiliki oleh teleskop refraktor dan teleskop reflektor.

Referensi
Astronomy 162. Refracting Telescope”. 30 Juni 2015. http://csep10.phys.utk.edu/astr162/lect/light/refracting.html
Telescopes.com. “How To Select Your First Telescope”. 30 Juni 2015. http://www.telescopes.com/telescopes/howtoselectyourfirsttelescopearticle.cfm