Melongok Asteroid 2005 YU55 Lebih Dekat

Seiring melintas dekatnya asteroid 2005 YU55 yang cukup besar, yakni bergaris tengah 400 m, fasilitas teleskop radio Deep Space Network milik NASA yang berpangkalan di Goldstone, California (AS) berkesempatan mengamati asteroid ini dalam resolusi yang lebih baik ketimbang pengamatan sejenis yang telah berlangsung pada April 2010 lalu. Pengamatan menggunakan sepasang teleskop radio dengan piringan raksasa bergaris tengah 70 meter dan 35 meter ini merupakan bagian dari upaya mengenali sifat-sifat asteroid pelintas dekat Bumi yang berpotensi bahaya bagi planet ini.

Asteroid 2005 YU55 (tanda panah), hasil observasi Mike Renzi dari Starhoo Observatory. Sumber : Renzi, 2011

Pengamatan akhirnya dapat dilangsungkan hanya dalam waktu empat jam jelang asteroid mencapai titik terdekatnya dengan Bumi. Pada saat itu asteroid masih berjarak 1,38 juta kilometer dari Bumi. Seperti telah diprediksikan, pengamatan menyajikan resolusi yang lebih baik dibanding 2010, yakni hingga 4 meter per piksel.

Asteroid 2005 YU55 kini dipastikan merupakan gumpalan yang hampir bulat menyerupai bola. Namun demikian di permukaan asteroid ini terdapat bagian-bagian yang lebih tinggi, layaknya bukit, dan alur-alur memanjang layaknya lembah. Juga diidentifikasi sejumlah kawah di permukaan asteroid ini. Semua kenampakan ini menyajikan cerita menarik seputar asteroid 2005 YU55.

Wajah asteroid 2005 YU55 hasil bidikan teleskop radio Goldstone. Tanda panah menunjukkan cekungan yang diduga adalah kawah tumbukan besar. Sumber : NASA, 2011

Dengan bentuknya yang membulat, bisa dikatakan asteroid ini memang sejak lahirnya (di masa awal tata surya) tidak mengalami perubahan bentuk berarti. Teori pembentukan tata surya yang diterima secara luas di masa kini menyebutkan asteroid seperti asteroid 2005 YU55 ini terbentuk di antara orbit Mars dan Jupiter. Sehingga asteroid ini pada awalnya adalah salah satu penghuni sabuk Asteroid Utama.

Bila kini asteroid 2005 YU55 melayang-layang di antara orbit Venus, Bumi dan Mars sebagai asteroid dekat Bumi kelas Apollo, tentulah ada mekanisme yang memaksanya keluar dari lingkungan nyaman di sabuk Asteroid Utama. Alur memanjang mirip lembah mungkin dapat bercerita tentang itu. Morfologi alur ini sekilas menyerupai sepasang kawah tumbukan berukuran besar. Jika memang demikian adanya, maka di masa silam asteroid 2005 YU55 sedikitnya telah berbenturan keras dengan dua asteroid sejenisnya. Benturan inilah, bersama dengan gangguan gravitasi planet Jupiter, yang memaksa asteroid berubah orbit secara gradual sehingga akhirnya terjebak sebagai asteroid dekat Bumi.



Inilah yang harus kita pahami bersama. Tidak seperti planet, asteroid adalah benda langit anggota tata surya yang berumur pendek, dengan estimasi hanya bertahan dalam orbitnya antara 10 hingga 100 juta tahun saja. Bandingkan dengan planet yang bisa bertahan milyaran tahun di orbitnya tanpa berpindah tempat. Singkatnya umur orbit asteroid disebabkan oleh kerentanannya menghadapi gangguan gravitasi planet-planet. Sehingga asteroid dapat terlempar keluar dari tata surya, saling bertabrakan dengan sesamanya atau bahkan jatuh menumbuk planet.

Skenario terakhir inilah yang menggelisahkan. Meskipun terkesan kecil, asteroid melejit dengan sangat cepat sehingga dampak tumbukannya bisa sangat besar. Asteroid seukuran 2005 YU55 misalnya, andaikata jatuh menumbuk daratan di Bumi, akan membentuk kawah berdiameter 8 km sembari melepaskan energi tumbukan yang setara dengan letusan Gunung Krakatau 1883. Tentu saja, itu akan berdampak global.

Lebih menggelisahkan lagi, jejak geologis di lapisan-lapisan Bumi merekam betapa setiap antara 26 hingga 33 juta tahun sekali, sebuah asteroid seukuran Gunung Everest jatuh menumbuk Bumi, menciptakan akwah bergaris tengah sedikitnya 100 km dengan dampak lingkungan yang tak terperi dan dirasakan di segenap penjuru. Peristiwa inilah yang dulu memusnahkan dinosaurus, beserta 75 % populasi makhluk hidup sezamannya.

Ma'rufin Sudibyo

Orang biasa saja yang suka menatap bintang dan sedang mencoba menjadi komunikator. Saat ini sebagai ketua tim ahli Badan Hisab dan Rukyat Daerah (BHRD) Kebumen, Jawa Tengah. Aktif pula dalam Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Falak Rukyatul Hilal Indonesia (LP2IF RHI), Ikatan Cendekiawan Falak Indonesia (ICFI), Jogja Astro Club dan International Crescent Observations Project(ICOP). Juga sebagai pembimbing dan pendamping Forum Kajian Ilmu Falak (FKIF) Gombong dan Majelis Kajian Ilmu Falak (MKF) Kebumen, keduanya di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Leave a Reply