LRO si penjelajah bulan

Wahana Antariksa LRO

LRO (Lunar Reconnaissance Orbiter) merupakan pesawat luar angkasa yang khusus di orbitkan untuk mengintai bulan. Di operasikan oleh NASA, tepatnya berada di Goddard Space Flight Center. LRO di orbitkan 50 km di atas kutub bulan dan memiliki berat 1.916 kg (4,224 pounds), berat kering 1.018 kg (2,244 pounds) dan bahan bakar (Cairan Hidrogen/LOX dan Minyak tanah/RP-1) 898 kg (1,980 pounds) dengan kekuatan 685 watt. LRO memiliki misi penjelajahan selama satu tahun dengan kemungkinan misi penjelajahan 3 tahun. Sebagai pesawat pengintai, LRO memiliki dua misi utama, yaitu melakukan pemetaan bulan dan mengidentifikasi kemungkinan tersedianya sumber daya yang potensial. Sedangkan secara objektif ada 4 sasaran hasil yang di harapkan, yaitu (1) untuk mencari tempat pendaratan yang aman; (2) untuk menemukan sumber daya potensial yang baru; (3) untuk menggambarkan arus radiasi lingkungan; dan (4) mendemonstrasikan teknologi baru.



LRO di luncurkan pada tanggal 18 Juni 2009 menggunakan roket Atlas V 401 dari Cape Canaveral, Florida dengan membawa 7 instrument, yaitu :

CRaTER (Cosmic Ray Telescope for the Effects of Radiation)
Bertugas untuk menandai radiasi bulan global dan dampak biologisnya. Memiliki berat 5,4 kg (12 pounds) dengan kekuatan rata-rata 7,3 watt. Penelitian di ketuai oleh Dr. Harlan Spence dari Boston University

Instrument Crater. Credit : NASA

 

DLRE (Diviner Lunar Radiometer Experiment)
Bertugas mengukur emisi termal permukaan bulan sebagai informasi operasi dan eksplorasi permukaan bulan di masa depan. Memiliki berat 11 kg (24 pounds) dengan kekuatan rata-rata 24,7 watt. Penelitian di ketuai oleh Dr. David Paige dari University of California, Los Angeles.

Instrument DLRE. Credit : NASA

 

LAMP (Lyman Alpha Mapping Project)
Bertugas untuk mencari es cair yang berada di kawah bulan dengan menggunakan cahaya ultraviolet dari bulan dan medium antar planet. Memiliki berat 6,1 kg (13 pounds) dengan kekuatan rata-rata 4 watt. Penelitian di ketuai oleh Dr. Randy Gladstone  dari Southwest Research Institute, San Antonio, Texas.

Instrument LAMP. Credit : NASA

 

LEND (Lunar Exploration Neutron Detector)
Bertugas mengukur, membuat peta dan mendeteksi kemungkinan lapisan es cair pada permukaan bulan teratas. Memiliki berat 25,8 kg (57 pounds) dengan kekuatan rata-rata 11,6 watt. Penelitian di ketuai oleh Dr. Igor Mitrofanov dari Institute for Space Research, Moscow, Russia.

Instrument LEND. Credit : NASA

 

LOLA (Lunar Orbiter Laser Altimeter)
Bertugas untuk penyelidikan ketepatan topografi model global bulan dan jaringan geodetik. Memiliki mberat 11,3 kg (25 pounds) denga kekuatan rata-rata 33,4. Penelitian di ketuai oleh Dr. David Smith dari NASA Goddard Space Flight Center, Greenbelt,

Instrument LOLA. Credit : NASA

 

LROC (Lunar Reconnaissance Orbiter Camera)
Bertugas mengukur persyaratan dari sertifikasi arahan situs pendaratan dan pencahayaan kutub. Memiliki berat 19,2 kg (42 pounds) dengan kekuatan rata-rata 24 watt. Penelitian di ketuai oleh Dr. Mark Robinson dari Arizona State University, Tempe, Ariz

Instrument LROC. Credit : NASA

 

Mini-RF
Memiliki berat 13,8 kg (30 pounds) dengan kekuatan rata-rata 7 watt. Penelitian di ketuai oleh Dr. Stewart Nozette Lunar and Planetary Institute, Houston.

Instrument Mini-RF. Credit : NASA

 

Instrumen-instrumen pada LRO

LRO di luncurkan bersamaan dengan LCROSS (Lunar CRater Observation and Sensing Satellite) yang membawa Roket Centaur sebagai bagian dari program Lunar Precusor Robotic Program. LCROSS sendiri adalah wahana antariksa robotik yang  di desain untuk mengamati bulan bersama LRO. Merupakan isi spektakuler untuk mencari keberadaan sumber air di wilayah yang dingin di bulan. pencarian air di lakukan melalui debu bulan. Pengambilan debu di lakukan dengan melepaskan Roket Centaur dari LCROSS dan menabrakannya ke bulan dengan kecepatan 9000 km/jam (pada kenyataannya tabrakan terjadi dengan kecepatan pendaratan 1000 km/jam berdasarkan kalkulasi). Tabrakan Centaur di harapkan mampu mengangkat material bulan sebesar 350 ton dan menciptakan kawah berdiameter 20 meter dengan kedalaman 4 meter. Kebanyakan material bulan yang berterbangan masih tersisa di bulan pada ketinggian di bawah 10 km.

 

Rocket Atlas V401. Credit : NASA

Diharapkan, analisis spektrum dari debu yang dihasilkan dari tabrakan tersebut mampu membantu mengkonfirmasi penemuan dari misi Clementine dan Lunar Prospector yang menunjukkan keberadaan air berupa es di wilayah yang secara permanen terhalang dari sinar matahari. Sedangkan LCROSS bertugas mengambil debu, LRO tetap berada di orbit untuk mengamati bulan dan mengirimkan data-data yang di kirimkan oleh ke-7 instrumen yang telah di persiapkan berdasarkan tugasnya masing-masing.

Sejak di orbitkan, LRO sudah menghasilkan beberapa hasil dari misinya selama mengelilingi bulan, di antaranya adalah :

  1. Pada tanggal 17 Desember 2010 peta topografi bulan yang di kumpulkan oleh LOLA di publikasikan dan menjadi peta topografi terakurat saat itu.
  2. Pada 15 Maret 2011 kumpulan data terakhir dari tahap eksplorasi misi di rilis ke NASA dan LRO telah mengumpulkan banyak data sebagaimana gabungan dari misi planet lainnya

 

Hasil pencitraan LRO saat melewati situs pendaratan Program Apollo 12,14 dan 17

 

Situs Pendaratan Apollo 17. Credit : NASA

 

Situs Pendaratan Apollo 14

 

Situs Pendaratan Apollo 12

Referensi :
NASA. 2009.  “Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO).

Kiki Rakhmawati Z

Mendekatkan diri pada Tuhan dengan memahami alam semesta... Salam ukhuwah...

Leave a Reply