Gerhana Bulan Total (GBT) merupakan fenomena dimana posisi Matahari-Bulan-Bumi berada pada satu garis lurus. Gerhana Bulan Total selalu terjadi saat Bulan berada pada fase Purnama. Pada saat GBT, Bulan akan tampak berwarna merah terang atau merah gelap sehingga biasa disebut juga dengan istilah Blood Moon. Warna merah darah pada Bulan disebabkan oleh fenomena Rayleigh Scattering yakni penghamburan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi. Cahaya matahari yang berwarna merah dihamburkan oleh atmosfer Bumi yang kemudian mengenai Bulan sehingga menyebabkan warna merah.

Gerhana Bulan Total akan kembali terjadi pada 28 Juli 2018 yang akan berlangsung mulai pukul 00.14 WIB, mencapai fase puncak pada pukul 03.21 WIB, dan berakhir pukul 05.19 WIB. Gerhana ini dapat dilihat dilihat di seluruh wilayah Indonesia. Tak hanya di Indonesia, namun juga di Amerika Selatan, Eropa, Afrika, Asia, dan Australia. Saat puncak gerhana, posisi Bulan berada di 12-18º di atas horizon untuk wilayah Indonesia bagian barat dan 6-12º di atas horizon untuk wilayah Indonesia bagian Timur. Namun Gerhana Bulan Total tanggal 28 Juli 2018 memiliki keistimewaan dibandingkan dengan Gerhana Bulan Total lainnya. Apa saja keistimewaan Gerhana Bulan Total 28 Juli?

1. Gerhana Bulan Total terlama di abad ke 21

Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 merupakan Gerhana Bulan Total terlama yang puncaknya terjadi selama 103 menit. Durasi ini merupakan durasi gerhana bulan total terlama dalam 100 tahun. Berikut adalah tabel Gerhana Bulan yang terjadi dari tahun 2011 hingga 2020.

Tanggal Magnitudo Umbra Durasi fase Total
15 Juni 2011 1.700 1 jam 40 menit
10 Desember 2011 1.106 51 menit
15 April 2014 1.291 1 jam18 menit
8 Oktober 2014 1.166 59 menit
4 April 2015 1.001 5 menit
28 September 2015 1.276 1 jam 12 menit
31 Januari 2018 1.315 1 jam 16 menit
27 Juli 2018 1.609 1 jam 43 menit
21 Januari 2019 1.195 1 jam 2 menit

Sumber: https://eclipse.gsfc.nasa.gov/lunar.html

2. Fenomena Micro Blood Moon Eclipse
Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 disebut juga sebagai Micro Blood Moon Eclipse. Karena pada saat Gerhana Bulan Total, Bulan mencapai jarak terjauh dari Bumi (titik apogee) sehingga ukurannya tampak lebih kecil atau disebut Micro Moon. Jarak Bulan terhadap Bumi sejauh 405.269 kilometer.

3. Bulan berdekatan dengan Planet Mars
Pada saat Gerhana Bulan Total, kita akan disuguhi pemandangan Planet Mars yang tampak sepanjang malam yang terlihat seperti bintang terang berwarna orange kemerahan dan dapat dilihat dengan mata telanjang tanpa bantuan alat. Planet Mars terletak di sebelah selatan Bulan saat berlangsungnya gerhana.

4. Oposisi Mars

Selain dari segi penampakannya di langit malam Mars tampak berdekatan dengan Bulan, Mars pada tanggal 27 Juli 2018 mengalami peristiwa oposisi dimana Matahari – Bumi – Mars berada pada satu garis lurus. Akibatnya pada tanggal 27 Juli 2018 Mars dengan Bumi akan berada pada jarak yang terdekat. Planet Mars akan tampak sebagai bintang terang tak berkelip berwarna merah.

5. Bersamaan dengan fenomena Hujan Meteor Piscis Austrinids
Hujan Meteor Piscis Austrinids akan mencapai puncak aktivitas pada 28 Juli 2018. Diperkirakan meteor yang akan terliat di langit malam sebanyak 5 meteor per jam. Hujan meteor ini seolah tampak dari rasi bintang Piscis Austrinus. Namun pengamatan hujan meteor ini diperkirakan akan terganggu dengan cahaya terang dari Bulan Purnama. Namun jika kamu dapat melihatnya, akan menjadi fenomena yang tak terlupakan lho.

Gerhana Bulan dapat terlihat dengan mata telanjang tanpa bantuan alat apapun. Pastikan kamu tidak melewatkannya ya! Karena Gerhana Bulan Total kali ini sangat istimewa. jika  kamu ingin melihat fenomena gerhana lebih dekat dengan teropong dan alat bantuan yang lain, pastikan kamu gabung dan mengikuti kegiatan di komunitas astronomi Penjelajah Langit!

Referensi: https://www.timeanddate.com/eclipse/lunar/2018-july-27