KALENDER ASTRONOMI BULAN SEPTEMBER 2016

 

Bulan Baru

Awal bulan September ini diawali dengan peristiwa fase bulan baru. Fase Bulan baru akan terjadi pada tanggal 1 September pukul 16.03 WIB. Fase bulan baru terjadi saat Bulan dan Matahari mengalami peristiwa konjungsi dilihat dari pengamat dari Bumi. Peristiwa konjungsi adalah peristiwa saat dua benda langit atau lebih berada dalam satu posisi yang sama atau saling berhimpit dilihat dari suatu titik acuan. Pada fase bulan baru ini Bulan dan Matahari pada posisi yang sama dilihat dari Bumi.

Ilustrasi Bulan ketika terjadi ijtimak (konjungsi) saat Bulan Baru tanpa Gerhana dan saat Bulan baru dengan gerhana Credit : http://petabandung.net/kiblat/moon-animation2.php
Ilustrasi Bulan ketika terjadi ijtimak (konjungsi) saat Bulan Baru tanpa Gerhana dan saat Bulan baru dengan gerhana
Credit : http://petabandung.net/kiblat/moon-animation2.php

 

 

Hujan Meteor Aurigids

Tahun 2016 ini Hujan Meteor Aurigids memulai aktivitasnya mulai 28 Agustus  hingga 5 September, dan mencapai puncaknya pada 1 September Pukul 02.00 WIB. Intensitas saat puncak humet Aurigids adalah 6 meteor per jamnya. Radian dari humet Aurigids adalah rasi Auriga. Rasi Auriga terbit sekitar pukul 01.00WIB. Waktu yang tepat untuk mengamati aktivitas humet Aurigids ini adalah saat radian mulai terbit sampai Matahari terbit. Kondisi fase bulan baru mendukung untuk melihat pengamatan hujan meteor Aurigids ini dengan catatan langit cerah.

Radiant atau sumber semu hujan meteor rasi bintang Auriga.
Radiant atau sumber semu hujan meteor rasi bintang Auriga.

 

Konjungsi Bulan-Venus

Tanggal 3 September selepas Matahari tenggelam kita dapat menyaksikan ada titik cahaya yang berdekatan dengan Bulan. Titik cahaya tersebut bukanlah bintang namun planet Venus. Saat posisi benda langit yang saling berdekatan ini dikenal dengan istilah konjungsi. Pada konjungsi Bulan-Venus ini jarak Bulan dan Venus sekitar 1o25’. Konjungsi Bulan-Venus ini dapat diamati dari seluruh kota di Indonesia sampai pukul 19.00 WIB saat bulan dan Venus mulai tenggelam.

Ilustrasi konjungsi Bulan-Venus dengan Stellarium 0.11.00
Ilustrasi konjungsi Bulan-Venus dengan Stellarium 0.11.00

 

Bulan Kuartil Awal

Saat Bulan mencapai fase kuartil awal, pada saat matahari tenggelam Bulan akan tepat berada di atas kepala pengamat (Zenit). Bulan terbit sekitar tengah hari dan tenggelam sekitar tengah malam.

 

Hujan Meteor Eta-Perseids

Tahun 2016 ini Hujan Meteor Eta-Perseids memulai aktivitasnya mulai 5 – 21 September, dan mencapai puncaknya pada 9 September Pukul 02.00 WIB. Intensitas saat puncak humet Aurigids adalah 5 meteor per jamnya. Radian dari humet Eta-Perseids adalah rasi Perseids. Rasi Perseus terbit sekitar pukul 23.00WIB. Waktu yang tepat untuk mengamati aktivitas humet Eta-Pesrseids ini adalah saat radian mulai terbit sampai Matahari terbit. Kondisi fase bulan kuartil awal mendukung pengamatan hujan meteor  Eta-Pesrseids karena selepas tengah malam langit terhindar dari polusi cahaya bulan sehingga memungkinkan untuk melihat meteor saat puncak hujan meteor Eta-Pesrseids .

Radiant atau sumber semu hujan meteor rasi bintang Perseus. Kredit : Robertnufer.ch
Radiant atau sumber semu hujan meteor rasi bintang Perseus. Kredit : Robertnufer.ch

 

Gerhana Bulan Penumbra

Gerhana bulan akan kembali terjadi pada 16 September 2016. Gerhana Bulan penumbra terjadi saat bumi memasuki bayangan penumbra Bulan. Pada saat Gerhana Bulan Penumbra, Bulan akan tetap nampak seperti purnama pada biasanya hanya nampak lebih redup saja. Gerhana Bulan Penumbra ini dapat diamati di seluruh wilayah Indonesia dan aman diamati dengan mata telanjang. Gerhana dimulai Pukul 23.54 WIB dan berakhir 17 September  Pukul 03.53 WIB. Puncak gerhana terjadi pada pukul 01.55 WIB. Saat puncak gerhana, bulan akan nampak lebih redup dari biasanya dan akan muncul bayangan hitam di sisi permukaan bulan bagian utara.

Gerhana Bulan Penumbra yang diabadikan oleh Raven Yu dari Filipina. Kredit : Raven Yu, 2012
Gerhana Bulan Penumbra yang diabadikan oleh Raven Yu dari Filipina. Kredit : Raven Yu, 2012

 

Bulan Purnama

Pada 17 September 2016 Bulan akan berada pada fase bulan purnama. Pada saat bulan pernama, Bulan akan bersinar menerangi langit malam sepanjang ,alam sampai Matahari terbit. Jarak Bulan saat itu adalah sejauh 364.754 km.

 

Equinox

Equinox adalah peristiwa dimana Matahari berada pada posisi perpotongan antara garis khatulistiwa dan garis edar Matahari (Ekliptika). Peristiwa Equinox tahun ini terjadi pada tanggal 22 September Pukul 21.21 WIB.

 

Konjungsi Bulan-Aldebaran

Pada tanggal 22 September 2016, sekitar Pukul 23.00 WIB setelah Bulan terbit akan tampak bintang berwarna merah didekat Bulan. Bintang tersebut adalah bintang paling terang di rasi Taurus sehingga diberi nama α-Taurus atau kita lebih mengenalnya dengan nama Aldebaran. Pengamatan untuk konjungsi Bulan-Aldebaran ini dapat dilakuakan dari slepas Bulan terbit hingga Matahari terbit. Semakin mendekati waktu Matahari trbit jarak Bulan-Aldebaran akan semakin dekat. Jarak Bulan-Aldebaran saat keduanya mengalami konjungsi sekitar 13o23’.

Ilustrasi konjungsi Bulan-Aldebaran dengan Stellarium 0.11.00
Ilustrasi konjungsi Bulan-Aldebaran dengan Stellarium 0.11.00

 

Bulan Kuartil Akhir

Tangga 23 September 2016 Bulan akan berada pada fase bulan kuartil akhir. Pada fase kuartil akhir, Bulan akan terbut sekitar tengah malam dan tenggelam saat tengah hari. Saat Matahari terbit, Bulan akan berada tepat di atas kepala pengama (Zenit).

Leave a Reply