Kala Samoa (dan Tokelau) Melompati Masa

Hanya beberapa jam jelang tahun 2011 mengakhiri perjalanannya, sebuah kejutan meletup dari tengah-tengah perairan Samudera Pasifik. Samoa dan teritori Tokelau memutuskan untuk bersama-sama mengubah zona waktu sekaligus mengubah posisi mereka terhadap garis batas tanggal internasional (International Date Line atau IDL) yang melintas di dekat wilayah mereka. Jika kedua lokasi tersebut semula terletak di sebelah timur garis tersebut, perubahan di akhir 2011 membuat keduanya bergeser menjadi ke sebelah barat garis. Keputusan ini dilakukan dengan menghapus hari Jumat 30 Desember 2011. Sehingga setelah Kamis 29 Desember 2011 disusul dengan hari Sabtu 31 Desember 2011.

Sontak dunia pun geger. Sebagian berpandangan romantis, sebab dapat menikmati 1 Januari 2012 selama dua hari berturut-turut di dua lokasi berbeda yang hanya berselisih beberapa ratus km yakni di Samoa dengan teritori Samoa Amerika. Sebagian terperangah. Bagaimana bisa lokasi yang terletak di wilayah Bujur Barat (BB), tepatnya di sekitar garis 170-172 BB yang secara tradisional memiliki waktu lokal terlambat dibanding waktu Universal (Greenwich) masing-masing terlambat 10 jam dan 11 jam untuk Tokelau dan Samoa, secara radikal memutuskan mengubahnya jadi lebih cepat 14 jam dan 13 jam masing-masing untuk Tokelau dan Samoa. Sementara sebagian lainnya hanya bisa bengong. Betapa tidak. Sistem kalender Gregorian, yang diklaim memiliki ketegasan dan akurasi tersendiri sehingga sanggup diterapkan secara global, ternyata juga memiliki masalah serupa yang menghinggapi kalender Hijriyyah dalam penentuan hari dan tanggal untuk negara-negara yang berdekatan.



Peristiwa penghapusan satu hari di Samoa dan Tokelau merupakan sisa dari permasalahan yang berakar ke masa lebih dari seabad silam. Kala itu, tepatnya tahun 1884, negara-negara terkemuka di dunia melangsungkan Konferensi Meridian Internasional dengan satu topik bahasan : menentukan lokasi garis bujur utama alias garis bujur nol. Posisi garis bujur nol sangat penting seiring berkembangnya jalur-jalur perdagangan dalam pelayaran samudera. Era penjelajahan samudera berabad-abad sebelumnya dihinggapi problem : berbedanya perhitungan waktu antara sebuah kapal yang usai mengelilingi dunia dengan pelabuhan tempat bertolak dan tujuannya, dengan selisih satu hari. Selisih ini mencerminkan adanya perbedaan hari dan tanggal antara sebuah belahan Bumi dengan belahan lainnya. Batas dua belahan tersebut lantas diformalkan sebagai garis batas tanggal internasional. Penentuan bujur nol sekaligus akan menentukan pula posisi garis tanggal tersebut.

Berbeda dengan garis-garis lintang yang dapat ditentukan secara obyektif dengan mendasarkan posisi benda langit (misalnya Matahari), tak ada cara serupa guna menetapkan garis-garis bujur, termasuk bujur nol. Sehingga dimana lokasi bujur nol berada sepenuhnya merupakan hasil kesepakatan antar manusia. Atas dasar itulah Konferensi Meridian Internasional digelar di Washington (AS). Seperti halnya percaturan global saat ini, konferensi tersebut pun dipenuhi negara-negara kuat yang saling bersaing. AS mengusulkan garis bujur Washington, sementara Inggris maju dengan garis bujur Greenwich dan Perancis bersikukuh dengan garis bujur Paris-nya. Persaingan dimenangkan Inggris, didasari fakta bahwa 70 % armada pelayaran saat itu telah menggunakan garis bujur Greenwich sebagai patokan waktu. Jadi Greenwich terpilih hanya karena paling populer.

Sehingga garis bujur yang melintasi kompleks Royal Observatory of Greenwich ditetapkan sebagai garis bujur nol. Sebelah barat dari garis ini menjadi kawasan Bujur Barat (BB) sementara sebelah timurnya kawasan Bujur Timur (BT). Sebaliknya garis bujur pasangan Greenwich, yang ditetapkan sebagai garis 180 BB atau garis 180 BT, dinyatakan sebagai garis batas tanggal internasional. Meski demikian Perancis rupanya dongkol dan tetap menggunakan garis bujur Paris-nya sebagai bujur nol hingga bertahun-tahun kemudian. ‘Pemberontakan’ Perancis berakhir pada 1919 tatkala negara itu memutuskan mulai menggunakan garis bujur Greenwich sebagai bujur nol, sebagai balas budi atas bantuan Inggris dan AS selama Perang Dunia I.

Meski persoalan telah usai bagi sebagian besar isi dunia, namun tidak demikian halnya bagi kawasan Pasifik. Secara tradisional garis bujur 180 BB/BT merupakan garis tanggal sebab selisih waktu lokalnya = 180/15 = 12 jam terhadap waktu Greenwich, baik lebih cepat maupun lebih lambat. Masalahnya sejumlah negara di sini dibelah garis bujur tersebut. Negara-negara tersebut kecil dan tidak bersuara banyak dalam percaturan global, sehingga melawan keputusan Konferensi Meridian Internasional 1884 menjadi tidak mungkin. Maka solusi satu-satunya yang memungkinkan adalah menggeser lokasi garis tanggal yang melintasi negara mereka sehingga tidak lagi membelah wilayahnya, tak peduli bahwa pergeseran itu menyebabkan garis tanggal tidak lagi berimpit dengan garis bujur 180 BB/BT.

Itulah yang dilakukan Kiribati. Negara ini terletak di antara garis bujur 175 BT hingga 150 BT. Sebelum 1995 terdapat tiga zona waktu, masing-masing GMT+1, GMT-12 dan GMT-11. Pembagian zona waktu seperti ini menyulitkan administrasi dan pengaturan waktu sipil di Kiribati. Bayangkan, bila Kiribati bagian barat sudah memasuki hari Senin 3 Januari 1994 misalnya, sementara Kiribati bagian tengah dan timur masih hari Minggu 2 Januari 1994. Sehingga di Kiribati bagian barat sudah memasuki hari kerja, sementara bagian tengah dan timur justru masih menikmati hari liburnya. Kesulitan semacam inilah yang mendorong Kiribati menyatukan semua hari dan tanggal di seluruh wilayahnya sejak 1995 dengan menggeser posisi garis tanggal ke batas timur negaranya, yakni mendekati garis 150 BB. Perubahan ini membuat zona waktu di Kiribati turut berubah, yakni menjadi GMT+12, GMT+13 dan GMT+14. Alhasil pasca 1995 bentuk garis tanggal internasional jadi unik karena meliuk lebih dari 3.000 km ke timur di sekitar khatulistiwa’.

16 tahun kemudian giliran Samoa dan teritori Tokelau mengikuti jejak Kiribati. Kini alasan yang mereka gunakan adalah hubungan perdagangan yang intensif dengan Australia dan Selandia Baru. Sebelum akhir 2011, waktu lokal Samoa 21 jam lebih lambat ketimbang Sydney. Sehingga jika Perdana Menteri Australia di hari Senin (menurut waktu lokal Sydney) menghubungi rekannya di Samoa untuk keperluan mendadak, rekannya masih berada di hari Minggu (menurut waktu lokal Samoa) yang adalah hari libur. Inilah hambatan yang harus diatasi dalam mengintegrasikan Samoa dan Tokelau ke kawasan perdagangan Pasifik selatan. Keputusan Samoa dan Tokelau menyebabkan hari Senin di Sydney adalah juga hari Senin di Samoa dan Tokelau. Bedanya, Samoa 3 jam lebih cepat dibanding Sydney sementara Tokelau 4 jam lebih cepat.

Perubahan zonasi zona waktu sebenarnya kerap dilakukan sejumlah negara, termasuk Indonesia, berdasarkan keputusan politis dan sesuai kepentingan negara yang bersangkutan. Sebelum 1973 Indonesia memiliki 6 zona waktu, yakni mulai GMT+6,5 hingga GMT+9 yang masing-masing berselisih 0,5 jam. Ini adalah pembagian zona waktu warisan Hindia Belanda. Karena dirasa ribet, keenam zona waktu tersebut kemudian disederhanakan menjadi tiga zona waktu seperti sekarang kita kenal, yakni WIB, WITA dan WIT yang masing-masing berselisih 1 jam. Penyesuaian kecil dilakukan pada 1988 yang mengubah komposisi pulau Kalimantan dalam zona WIB dan WITA. Kelak pun akan dilakukan perubahan lagi seiring bergaungnya usulan untuk membentuk Waktu Kesatuan Indonesia (WKI), yang bakal menghapus zonasi WIB, WITA dan WIT secara menyeluruh.

Ma'rufin Sudibyo

Orang biasa saja yang suka menatap bintang dan sedang mencoba menjadi komunikator. Saat ini sebagai ketua tim ahli Badan Hisab dan Rukyat Daerah (BHRD) Kebumen, Jawa Tengah. Aktif pula dalam Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Falak Rukyatul Hilal Indonesia (LP2IF RHI), Ikatan Cendekiawan Falak Indonesia (ICFI), Jogja Astro Club dan International Crescent Observations Project(ICOP). Juga sebagai pembimbing dan pendamping Forum Kajian Ilmu Falak (FKIF) Gombong dan Majelis Kajian Ilmu Falak (MKF) Kebumen, keduanya di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Leave a Reply