Hujan Meteor Perseids 2016

Hujan meteor atau sering disingkat dengan istilah humet bukanlah istilah yang asing lagi bagi para pecinta langit malam maupun astronom amatir. Nah pada bulan Agustus ini kita dapat menyaksikan hujan meteor Perseids. Sesuai namanya, humet Perseids memiliki arah radiant yaitu dari rasi bintang Perseus. Pada tahun 2016 humet Perseids dapat kita saksikan aktivitasnya mulai tanggal 17 Juli hingga 24 Agustus 2016. Berdasarkan kalender hujan meteor yang dirilis oleh International Meteor Organization (IMO), humet Perseids akan mencapai puncaknya pada tanggal 12 Agustus 2016 pukul 13.00 UT – 15.30 UT atau pukul 20.00 WIB – 22.30 WIB. Pada saat puncak humet Perseids kita dapat menyaksikan meteor-meteor yang melintas di langit malam sekitar 150 meteor per jam.

Humet Perseids merupakan salah satu humet periodik yang terjadi setiap tahun dalam waktu yang relatif sama. Hal ini dikarenakan humet Perseids merupakan humet yang terjadi karena dalam perjalanan mengelilingi Matahari (Bumi berevolusi) Bumi melintasi orbitnya yang berpotongan dengan orbit komet 109P/Swift-Tuttle. Adapun posisi Bumi saat terjadi humet Perseids dapat dilihat seperti gambar di bawah ini.

Diagram Orbit Komet 109P Swift-Tuttle
Diagram Orbit Komet 109P/Swift-Tuttle. Kredit Cometbase.net

Komet 109P/Swift-Tuttle diberi nama sesuai penemunya yaitu Lewis Swift dan Horace Parnell Tuttle pada 16 Juli tahun 1862. Perjalanan komet 109P/Swift-Tuttle mencapai sekitar 130 tahun untuk mengelilingi Matahari satu kali. Komet 109P/Swift-Tuttle terkhir teramati yaitu pada saat mencapai jarak terdekat dengan matahari (perihelion) dengan jarak 0.9595 AU pada 11 Desember 1992.

Gambar Orbit Komet 109P/Swift-Tuttle pada Saat Perihelion. Kredit : http://cometbase.net
Gambar Orbit Komet 109P/Swift-Tuttle pada Saat Perihelion. Kredit : http://cometbase.net

Ketika komet 109P/Swift-Tuttle berada pada titik terdekat matahari, maka permukaan struktur padatnya (pada inti) akan menguap, membentuk ekor dan terdorong menjauhi Matahari yang disebabkan oleh adanya angin Matahari. Berdasarkan gambar 2, maka ekor komet 109P/Swift-Tuttle  akan berada di depan sehingga mendekati orbit bumi. Setelah komet 109P/Swift-Tuttle  melewati orbit Bumi (berpotongan),  komet 109P/Swift-Tuttle meninggalkan jejak komet berupa material-material seperti bebatuan yang berasal dari dalam komet yang terlempar karena pengaruh angin dan radiasi Matahari di sekitar perpotongan orbit tersebut. Bebatuan-bebatuan  “peninggalan” komet inilah yang menjadi cikal bakal meteor berasal. Bebatuan-bebatuan yang masih bebas di luar sana ini  disebut Meteoroid. Ketika bumi melewati jejak komet tersebut, maka Meteoroid yang berada di dekat Bumi akan tertarik menuju Bumi karena adanya pengaruh gravitasi Bumi. Ketika Meteoroid “jatuh” menuju Bumi, Meteoroid harus menembus lapisan-lapisan atmosfer Bumi sehingga terjadi gesekan anatara Meteoroid dengan lapisan udara. Akibat dari gesekan ini menimbulkan material tersebut terbakar sehingga akan nampak berpijar dan “jatuh” mendekati Bumi dengan kecepatan yang tinggi. Meteoroid yang berpijar inilah yang kita kenal dengan istilah Meteor. Karena nampak bercahaya dan “jatuh” mendekati Bumi dengan kecepatan yang tinggi maka meteor juga dengan istilah bintang jatuh. Pada saat Bumi melintasi perpotongan orbit tersebut, maka akan ada ratusan Meteoroid yang tertarik “jatuh” ke Bumi sehingga akan terlihat meteor dalam jumlah yang banyak tidak seperti pada hari-hari biasanya. Peristiwa ini dikenal dengan istilah Hujan Meteor (Humet) atau meteor shower. Gautama dalam bukunya yang berjudul Astronomi dan astrofisika menyatakan bahwa Karena titik potong orbit komet 109P/Swift-Tuttle dan orbit Bumi tetap, dan jejak komet 109P/Swift-Tuttle tidak habis sekaligus saat Bumi sekali melewatinya, maka hujan meteor Perseids akan terjadi secara periodik tiap tahunnya. Meskipun demikan, jumlah meteor yang dapat teramati setiap tahunnya tidak selalu sama. Hal ini disebabkan karena jumlah Meteoroid yang tertarik “jatuh” ke Bumi juga tidak sama. Sebagai contoh pada tahun 2015 lalu jumlah meteor yang dapat diamati saat puncak hujan Meteor Perseids memeliki intensitas 100 meteor per jam, adapun tahun ini (2016) intensitasnya mencapai 150 meteor per jamnya.

Untuk mengetahui bagaimana kita dapat menikmati peristiwa Hujan meteor ini tidak akan saya jelaskan panjang lebar untuk kali ini. Silahkan kunjungi http://kafeastronomi.com/tips-melihat-hujan-meteor.html untuk mengetahui bagaimana tips untuk mengamati hujan meteor. Saya akan menjelaskan dua point terkhir pada akhir tersebut yaitu mengenali sumber hujan meteor (Radiant) hujan meteor berasal dan fase Bulan saat puncak hujan meteor terjadi.

Seperti yang telah dijelaskan di atas,radiant hujan meteor Perseids yaitu rasi Perseus. Rasi Perseus pada 12 Agustus 2016 terbit sekitar pukul 01.00 dini hari di arah timur laut. Maka saat malam puncak hujan meteorer Persids tahun ini setelah pukul 01.00 dini hari yaitu setelah rasi Perseus ini terbit di arah timur laut. Arahkan pandangan kita ke arah radiant hujan meteor berasal dengan medan pandang yang luas. Namun tidak menutup kemungkinan meteor terlihat selain dari arah radiant ini.

Beruntungnya pada malam puncak hujan meteor Perseids tahun ini Bulan berada pada fase kuartil awal. Bulan pada kuartil awal terbit sekitar tengah hari dan tenggelam sekitar tengah malam. Hal ini patut kita syukuri karena pada malam puncak jika cuaca bersahabat kita akan melihat puluhan meteor tiap jamnya karena tidak terhalang oleh sinar Bulan.

Radiant atau sumber semu hujan meteor rasi bintang Perseus. Kredit : Robertnufer.ch
Radiant atau sumber semu hujan meteor rasi bintang Perseus. Kredit : Robertnufer.ch

Leave a Reply