Hujan Meteor Lyrids 2017

Selamat datang musim kemarau. Selamat datang langit yang sedikit mendung, banyak cerahnya. Kawan, berkemaslah, sudahi masa hibernasimu, bangun dan lihatlah langit luas di atas rumahmu, karena ada yang spesial di langit April. Seperti tahun-tahun sebelumnya, memasuki akhir bulan April, Hujan Meteor Lyrids hadir memeriahkan awal musim kemarau.

Gambar 1. Hujan Meteor Lyrids 2016. Sumber: Manoj Kesavan

Hujan meteor merupakan fenomena ketika intensitas meteor yang tampak dilangit malam lebih banyak dari biasanya. Dinamakan sebagai Hujan Meteor Lyrids karena seolah-olah hujan meteor ini bersumber dari lokasi Rasi Lyra. Aslinya, ia berasal dari serpihan-serpihan ekor komet C/1861 G1 Thatcher saat memotong orbit Bumi di masa lalu . Bumi yang sedang mengorbit matahari melalui lintasan yang bersinggungan dengan jalur Komet Thatcher menyebabkan serpihan-serpihan tertarik kearah permukaan Bumi sebagai akibat dari gaya gravitasi. Nama komet ini mencerminkan siapa penemu dan waktu penemuannya. Dialah A. E. Thatcher yang menemukan komet ini pada tahun 1861. Komet Thatcher ini tergolong komet jauh, dengan periode ulang melintas 415 tahun. Maka, komet ini akan kembali melintas orbit Bumi pada tahun 2.276 kelak.

Gambar 2. Lintasan Komet Thatcher yang bersinggungan dengan jalur orbit Bumi. Sumber: JPL SSD melalui http://earthsky.org/astronomy-essentials/everything-you-need-to-know-lyrid-meteor-shower

Waktu Pengamatan
Yang harus segera dicatat adalah waktu. Hujan Meteor Lyrids berlangsung sejak tanggal 16-25 April 2017. Hanya saja, puncak hujan meteor terjadi pada tanggal 22 April 2017 pukul 11.00 hingga 22.00 WIB dengan intensitas rata-rata 18 meteor per jam.

Posisi Hujan Meteor
Untuk mengamati Hujan Meteor Lyrid, yang pertama kali harus dilakukan adalah mencari posisi Rasi Lyra di langit. Pada tanggal 22 April nanti, Rasi Lyra baru mulai terbit pada pukul 23.55 WIB dan akan terus terlihat hingga mentari terbit. Cara menemukan Rasi Lyra: arahkan pandangan ke langit sisi timur, kemudian temukan bintang Vega, bintang paling terang di horizon timur.

Gambar 3. Posisi Rasi Lyra
Sumber: Stellarium

Beruntung sekali, pada puncak hujan meteor kali ini. Bulan sedang berada pada fase sabit tua dan baru akan terbit dini hari, pukul 03.30 WIB pada tanggal 23 April. Dengan demikian, pada saat puncak hujan meteor terjadi, langit dalam keadaan gelap tanpa gangguan sinar rembulan sedikitpun. Situasi ini akan lebih baik jika cuaca sedang cerah tanpa ada awan mendung sebagai penghalang.

Radiant atau sumber semu hujan meteor Lyrids di rasi bintang lyra. Kredit : Yuri Beletsky

Cara Mengamati Hujan Meteor Lyrids
Pengamatan hujan meteor, tidak perlu bantuan alat-alat optik mahal. Justru disarankan melihat dengan mata biasa tanpa bantuan teleskop ataupun binokuler, sehingga cakupan area pandangan lebih luas. Pemilihan lokasi pengamatan juga menjadi kunci sukses menyaksikan hujan meteor. Disarankan, mencari lokasi yang benar-benar gelap, tanpa ada polusi cahaya dari berbagai macam lampu. Selain itu, usahakan tidak ada objek yang menghalangi pandangan ke langit sisi timur, seperti pepohonan atau bangunan.

Alternatif Pengamatan
Pada malam puncak hujan meteor, ada beberapa objek langit yang menarik untuk diamati. Dari arah tenggara ada planet Saturnus, yang dapat diintip lapisan cincinnya dengan bantuan teleskop. Dari posisi Saturnus, jika ditarik pandangan ke atas ada planet terbesar, Jupiter. Masih dengan bantuan teleskop dapat pula dilihat satelit-satelit Jupiter, bahkan dengan perbesaran lebih dapat diidentifikasi bagian red spot Jupiter. Selain kedua planet tersebut, jika langit cerah tak berawan maka dapat dilihat lengan galaksi Bimasakti yang membentang dari tenggara hingga barat daya melalui rasi Sagitarius, ekor Scorpio, Centaurus, Crux atau Gubuk Penceng, hingga Carina.

Gambar 4. Posisi Planet Saturnus dan Jupiter sebagai alternatif pengamatan
Sumber: Stellarium

Dan akhirnya, selamat menjelajah langit, meresapi keagungan-Nya di sudut malam. Semoga Langit berkenan cerah.

Leave a Reply