Tahun 2017 akan segera berakhir resolusi maupun harapan-harapan baru mulai di tulis berharap dapat terealisasi pada tahun 2018. Namun peristiwa astronomis di penghujung tahun 2017 tetap memiliki daya tarik tersendiri. 14 Desember 2017 sebuah fenomena alam hujan meteor akan terjadi. Meteoroid-meteoroid yang tercipta sebagai hasil dari semburan material asteroid yang terkena radiasi Matahari, akan mulai memasuki atmosfer Bumi dan menjadi kembang api di langit malam yang siap memanjakan bagi mata yang memandangnya.

Hujan meteor Geminids yang berhasil diabadikan di observatorium Paranal oleh astronom Stephane Guisard. Kredit : Astrosurf.com/sguisard

Hujan meteor geminids merupakan hujan meteor yang terjadi setiap tahun tepatnya di bulan Desember dalam rentang waktu puncak hujan meteor sekitar 13-14 Desember dan kebetulan tahun ini hujan meteor geminids jatuh pada tanggal 14 Desember 2017. Namun sebelum kita membahas lebih lanjut tentang puncak hujan meteor Geminids mari sejenak kita mengulas asal muasal bagaimana hujan meteor Geminids dapat terjadi.

Fenomena hujan meteor merupakan sebuah fenomena dimana Bumi saat mengelilingi Matahari melintasi lintasan (orbit) yang telah terkotori oleh bebatuan maupun material yang disebabkan oleh benda langit yang penah dimasa lalu “menyebrang” dalam lintasan tersebut. Jika Bumi kita ibaratkan sebagai sebuah mobil yang mengelilingi lintasan berbentuk lingkaran dalam sebuah stadium dan truk yang membawa pasir diibaratkan sebagai benda langit yang pernah melintasi/menyebrang lintasan Bumi di masa lalu, maka saat hujan meteor terjadi mobil kita berada pada posisi dimana truk di masa lalu itu menyebrang. Pada posisi itulah bebatuan maupun pasir yang mengotori lintasan menempel pada Ban mobil dan terangkat keatas mengenai bagian bawah mobil hingga menyebabkan suara brisik. Sebagaimana yang terjadi dengan lintasan Bumi kita, pada saat benda langit yang menyebrang melintasi orbit Bumi, ia mengotori orbit tersebut dan pada saat peristiwa hujan meteor terjadi Bumi berada pada posisi dimana kotoran-kotaran yang ditinggalkan oleh benda langit tersebut mulai tertarik oleh gravitasi Bumi hingga akhirnya terbakar menjadi kilauan-kilauan cahaya yang disebut sebagai meteor. Umumnya benda langit yang melintas adalah komet dan asteroid.

Hujan meteor Geminids disebabkan oleh sebuah asteroid yang bernama 3200 Phaethon. Asteroid ini pertama kali ditemukan pada tahun 1983 ketika dua orang astronom Simon F. Green dan John K. Davies sedang mencari data benda langit bergerak dengan menggunakan teleskop inframerah luar angkasa IRAS(Infrared Astronomical Satellite ). Pada mulanya 3200 Phaeton sama sekali tidak terdeteksi oleh teleskop dengan panjang gelombang cahaya tampak namun setelah penemuan 3200 Phaeton menggunakan teleskop luar angkasa IRAS, astronom mengkonfirmasi bahwa objek tersebut memang benar-benar ada dan tergolong kedalam asteroid. Asteroid 3200 Phaeton merupakan asteroid yang cukup langka karena para astronom umumnya menyebut asteroid seperti 3200 Phaeton dengan sebutan “Rock Comet” atau Komet Batu. Pada tahun 2010 wahana antariksa NASA yakni STEREO berhasil mendeteksi adanya semburan partikel yang keluar dari tubuh asteroid 3200 Phaeton. Pada umumnya asteroid berbentuk batu padat dan tidak mengeluarkan semburan material maupun partikel layaknya komet saat terhempas oleh radiasi Matahari. Namun asteroid 3200 Phaeton bukanlah termasuk asteroid yang padat seperti itu. Inilah mengapa astronom menyebut asteroid semacam asteroid 3200 Phaeton sebagai “Komet Batu.” Hasil dari semburan material inilah yang menyebabkan lintasan Bumi menjadi terkotori hingga akhirnya menjadi meteoroid dan terbakar menjadi meteor pada fenomena hujan meteor Geminids.

Pergerakan asteroid 3200 Phaeton yang difoto secara berkala dengan menggunakan teleskop di observatorium Winer Arizona Amerika pada 25 Desember 2010. Kredit : Marco Langbroek Observatorium Winer

Asteroid 3200 Phaeton terakhir kali melintas dekat dengan Bumi pada 10 Desember 2007 atau tepatnya 10 tahun yang lalu dan asteroid ini akan kembali melintas dekat dengan Bumi kita pada tahun 2017. Lebih tepatnya pada 16 Desember 2017 dengan jarak sejauh 10.312.000 km atau sebanding dengan 27x jarak Bumi – Bulan. Dan jika kita bandingkan dengan jarak pada tahun 2007 maka jarak pada tahun 2017 tentu lebih dekat daripada jarak yang ditempuh pada tahun 2007 yakni sekitar 18.085.600km. Dengan kata lain bilamana objek tersebut kembali melintas maka “kotoran” yang berupa material bebatuan akan kembali mengotori lintasan/orbit Bumi dan dapat menyebabkan suplai meteoroid hujan meteor Geminids kembali meningkat. Di masa depan, asteroid 3200 Phaeton akan kembali mendekat ke lintasan orbit Bumi kita pada 11 Desember 2050, 18 Desember 2060 dan 14 Desember 2093. Jika anda memiliki teleskop dengan mounting yang dapat mengikuti gerak benda langit(tracking), anda dapat mendeteksi pergerakan asteroid 3200 Phaeton sang kontributor hujan meteor Geminids pada 16 Desember 2017.

Ilustrasi lintasan asteroid 3200 Phaeton yang memotong dengan lintasan Bumi kita. Sumber : minorplanetcenter.net

Widiih pingin mengamati hujan meteor geminids nih! Untuk mengamati fenomena alam hujan meteor Geminids dibutuhkan beberapa syarat tertentu agar hujan meteor dapat teramati dengan optimal. Nah apa saja syaratnya?

Syarat yang pertama adalah pastikan anda memilih lokasi pengamatan di lokasi yang jauh dari lampu kota atau dengan kata lain jauh dari polusi cahaya. Dimana itu? Lokasi yang jauh dari polusi cahaya umunya seperti lokasi di pedesaan, gunung, pantai maupun tempat-tempat yang jauh dari pusat kota. Atau jika anda ingin menemukan tempat rendah polusi cahaya ala Kids Jaman Now silahkan akses alamat http://www.lightpollutionmap.info Pada alamat tersebut terpetakan wilayah yang rendah polusi cahaya hingga kaya akan polusi cahaya. Rendah polusi cahaya berwarna hitam dan kaya akan polusi cahaya berwarna merah.

Syarat yang kedua pastikan anda melakukan pengamatan pada tanggal 13 sore – 14 pagi atau 14 sore – 15 pagi. Mengapa harus pada tanggal-tanggal tersebut? Karena pada tanggal-tanggal tersebut Bumi melintasi wilayah lintasan orbit yang kaya akan meteoroid sehingga meteoroid-meteoroid yang tertarik ke permukaan Bumi akan semakin banyak dan menyebabkan banyanya kilauan cahaya yang disebut meteor.

Syarat yang ketiga adalah pastikan lokasi tempat pengamatan anda memiliki medan pandang yang cukup luas dan dapat menyaksikan rasi bintang Gemini yang menjadi sumber semu(atau disebut radiant) dari hujan meteor Geminids

Sumber semu atau radiant hujan meteor Geminids. Sumber : Stellarium

Syarat yang ke empat pastikan anda tidak menggunakan teleskop maupun binokuler. Mengamati hujan meteor harus menggunakan mata telanjang. Karena kemunculan hujan meteor tidak dapat diprediksikan akan muncul di wilayah langit yang sama. Kalo pakai kacamata? Silahkan digunakan.

Syarat yang terakhir pastikan tubuh anda terlindungi dengan baik. Umumnya teman-teman dari komunitas astronomi Penjelajah Langit menggunakan jaket yang windproof alias tidak tembus angin dan pastikan tubuh anda terlindung dari dinginnya udara malam. Selain itu bawalah makanan maupun minuman sebagai suplai logistik waktu pengamatan. Jika wilayah pengamatan banyak nyamuknya silahkan bawa lotion anti nyamuk dan jangan bawa kemenyan ya 😀

Potret kawan-kawan komunitas astronomi Penjelajah Langit saat melakukan pengamatan Bulan dan planet Jupiter dengan menggunakan teleskop dan binokuler di daerah Magelang Jawa Tengah. Kredit : Penjelajah Langit 2016

Nah pada tahun 2017 saat pengamatan hujan meteor Geminids berlangsung, pada pagi hari akan tampak Bulan sabit Tua beserta bintang terang tak berkelip berwarna oranye dan jingga. Siapakah itu? Mereka adalah planet Mars dan planet Jupiter. Wah All in One dong selain bisa melihat hujan meteor ternyata bisa juga melihat planet-planet seperti Jupiter dan Mars. Betul sekali! Gimana tertarik untuk mengamatinya? Semoga langit cerah dan selamat menjelajah langit!

 

Referensi :
David Jewitt, Jing Li. 2010. “Activity in Geminid Parent (3200) Phaethon”, https://arxiv.org/abs/1009.2710, diakses pada 07 Desember 2017.
David Jewitt, Jing Li, Jessica Agarwal. 2013. “The Dust Tail of Asteroid (3200) Phaethon”, https://arxiv.org/abs/1306.3741, diakses pada 07 Desember 2017.
(3200 Phaeton). Close Approaces, http://newton.dm.unipi.it/neodys/index.php?pc=1.1.8&n=3200 diakses pada 07 Desember 2017