Friday Oct 24, 2014

Hujan Meteor Geminids 2012, Laporan dari Indonesia

Usai dengan segala bentuk kehebohan terkait perlintasan-dekat Toutatis si asteroid kentang dan gerhana asteroid 2012 XE54, langit malam bulan Desember 2012 masih tetap menebarkan pesonanya. Bukan, bukan karena ketidakadaan benda langit ganjil bernama Nibiru yang seharusnya sudah sama terangnya dengan Bulan sejak awal Desember 2012 ini namun kenyataannya tak pernah dijumpai di langit. Namun oleh kehadiran sebuah peristiwa langit tahunan yang tetap memukau: hujan meteor.



Hujan meteor adalah terminologi yang ditujukan untuk masuknya meteoroid-meteoroid yang berasal dari satu sumber yang sama menuju atmosfer Bumi sehingga kita yang tinggal di permukaan Bumi akan menyaksikannya sebagai meteor-meteor yang saling susul menyusul dengan arah lintasan seolah-olah berasal dari satu titik dalam rasi bintang tertentu di langit. Meteoroid-meteoroid ini umumnya bersumber dari remah-remah komet yang berwujud pasir, kerikil dan batu. Remah-remah tersebut disemburkan dari inti komet tatkala benda langit eksotik itu bergerak mendekati Matahari dalam perjalanannya menyusuri orbitnya menuju ke titik perihelion. Pada saat itu inti komet menerima panas dan tekanan angin Matahari lebih kuat dari sebelumnya sehingga materi-materi ringan didalamnya yang semula beku tersublimasi menjadi gas yang kemudian berkumpul dalam cebakan-cebakan dangkal di bawah kerak inti komet. Melalui titik-titik lemah di permukaan kerak inti komet dalam bentuk retakan-retakan yang menjangkau cebakan, gas disemburkan keluar sembari menyeret pasir, kerikil dan batu bersamanya layaknya letusan gunung berapi. Gas dan remah-remah ini membentuk atmosfer temporer yang berdebu sekaligus membentuk ekor komet yang legendaris. Jika orbit komet tersebut melintas di dekat orbit Bumi, kombinasi gravitasi Bumi dan tekanan angin Matahari menyebabkan remah-remah komet tersebut berevolusi demikian rupa sehingga menjadi sebuah awan debu yang mengandung meteoroid beraneka ukuran. Bila komet tersebut memiliki orbit ellips, maka ia bakal rutin menyambangi lingkungan dekat Bumi dan tata surya bagian dalam sesuai dengan periode orbitalnya sehingga awan debu pun senantiasa terproduksi secara kontinu.

Gambar 1.
Salah satu meteor terang Geminids seperti yang terekam di Bali meski langit cukup berawan. Kombinasi terangnya cahaya meteor dan lamanya bukaan rana kamera (30 detik) menyebabkan lingkungan nampak terang benderang layaknya siang, padahal pengamatan dilakukan di Jumat dinihari 14 Desember 2012.
Sumber: Malik Nur Hakim, 2012.



Awan-awan debu inilah yang kemudian memasuki atmosfer Bumi secara rutin menjadi hujan meteor yang bersifat periodik. Hujan meteor senantiasa dinanti pecinta langit seiring jadwal kedatangannya yang relatif tetap dalam tahunnya di samping mampu menyajikan panorama langit spektakuler. Hujan meteor Leonids tahun 1966 dan 1998 misalnya, demikian memukau seiring melejitnya sekitar 100 ribu meteor dalam setiap jamnya di langit malam.

 

Geminids

Di antara sesama hujan meteor, Geminids menjadi hujan meteor yang kian populer khususnya dalam tiga dasawarsa terakhir. Berbeda dengan hujan meteor Leonids yang sifatnya fluktuatif karena intensitas rata-rata per tahunnya sebenarnya hanya 10 meteor/jam, kecualis etiap 33 tahun sekali yang mendadak melonjak hingga lebih dari 10.000 meteor/jam, maka hujan meteor Geminids tergolong konstan. Hujan meteor yang muncul setiap awal hingga pertengahan bulan Desember ini juga memiliki intensitas besar karena sanggup memancarkan 120 meteor/jam dengan kecepatan setiap meteornya mencapai 35 km/detik. Fakta ini menjadikan hujan meteor Geminids menjadi hujan meteor yang terbesar dalam setiap tahunnya. Dan berbeda dengan hujan-hujan meteor lainnya, hujan meteor Geminids dikenal kerap memproduksi meteor yang sangat cemerlang (fireball) sehingga mampu menyamai kecemerlangan planet Venus (magnitude visual –4) atau bahkan lebih.

Dengan semua keistimewaannya, hujan meteor Geminids masih berselubung teka-teki khususnya terkait asal-usulnya. Teleskop antariksa inframerah IRAS (Infra Red Astronomical Satellite) pada 11 Oktober 1983 berhasil mengidentifikasi sebuah benda langit redup yang cukup besar (diameter 5 km) namun cukup gelap (albedo hanya 0,05 atau menyamai inti komet), yang dinamakan Phaethon (1983 TB). Profil orbit Phaethon ternyata identik dengan orbit meteoroid-meteoroid Geminids, sehingga ia sempat diduga sebagai sumber awan debu yang menyebabkan hujan meteor Geminids. Namun observasi selanjutnya cukup mengejutkan, sebab Phaethon ternyata merupakan asteroid yang memiliki orbit ganjil sehingga bisa lebih dekat ke Matahari dibanding planet Merkurius. Penemuan ini menjungkir-balikkan teori yang selama ini mengaitkan hujan meteor dengan aktivitas komet. Meski pada awalnya didukung oleh fakta bahwa meteor-meteor Geminids memiliki densitas (massa jenis) yang lebih besar dibanding meteor-meteor dari hujan meteor lainnya (sehingga mengesankan sumber hujan meteor Geminids adalah benda langit yang lebih rapat dibanding komet), belakangan status Phaethon sebagai sumber hujan meteor Geminids pun diragukan. Sebab meskipun asteroid ini ternyata berperilaku menyerupai komet (yakni menyemburkan gas dan debu tatkala berada di sekitar titik perihelionnya akibat tingginya suhu lingkungan oleh panas Matahari), namun jumlah debu yang diproduksinya hanya setara dengan 1/10000 meteor-meteor Geminids. Sehingga darimana sebenarnya hujan meteor Geminids ini berasal masihlah menjadi teka-teki.

Observasi Indonesia

Gambar 2.
Salah satu meteor Geminids melesat di latar depan bintang-bintang di atas kubah teleskop Planetarium dan Observatorium Jakarta, pada Jumat dinihari 14 Desember 2012.
Sumber: Ronny Syamara, 2012.

Pada Desember 2012 ini, hujan meteor Geminids mewarnai langit sejak 10 hingga 17 Desember 2012 dengan puncaknya pada 13 dan 14 Desember 2012. Puncak hujan meteor ini bertepatan dengan langit yang relatif gelap karena Bulan masih berada dalam fase Bulan sabit sehingga benderang cahayanya belum sanggup menerangi langit layaknya purnama. Sehingga hujan meteor Geminids menjadi hujan meteor yang bisa diobservasi dengan leluasa.

Demikian halnya di Indonesia. Meski langit Indonesia dan Asia Tenggara pada umumnya banyak didominasi awan seiring telah masuknya musim penghujan sekaligus sebagai imbas dari padang barometrik Pasifik barat yang salah satunya berujung pada terbentuknya topan Bopha yang memicu tragedi kemanusiaan di Filipina, namun langit yang cerah kerap muncul khususnya setelah hujan usai. Sehingga observasi terhadap hujan meteor Geminids pun dapat dilaksanakan. Terlebih dengan kemampuan hujan meteor Geminids untuk memproduksi fireball, maka tidak dibutuhkan langit yang cerah sepenuhnya guna mengamatinya. Dengan rasi Gemini baru terbit di langit timur laut pada sekitar pukul 20:30 WIB, maka hujan meteor Geminids secara teoritik bisa diamati sejak pukul 22:00 WIB hingga jelang fajar pada 13-14 Desember 2012.

Salah satu titik observasi hujan meteor Geminids di Indonesia adalah kawasan pantai Parangkusumo, Bantul (DIY), diselenggarakan oleh 25 astronom amatir yang bernaung di bawah Jogja Astro Club (JAC). Dalam kondisi langit yang tetap saja berawan, hanya bintang-bintang terang saja (seperti Canopus, Sirius, Rigel dan Procyon) yang bisa dilihat mata. Meski demikian observasi yang berlangsung pada Jumat dinihari 14 Desember 2012 ini ternyata mampu mencatat sedikitnya 65 buah meteor Geminids yang melesat di langit selama dua jam penuh, atau dengan intensitas rata-rata 32 meteor/jam. Pencapaian ini cukup mengesankan sekaligus mendemonstrasikan keistimewaan meteor Geminids sehingga dalam kondisi langit berawan pun masih bisa diamati, khususnya pada meteor-meteor terang.

Pencapaian serupa juga berlangsung dalam observasi di Jakarta. Di bawah langit yang semula mendung namun kemudian mendadak cerah pasca hujan lebat, meski tetap terang benderang akibat polusi cahaya Jakarta, para pegiat Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) berhasil merekam sejumlah meteor Geminids dalam observasi di lingkungan Planetarium dan Observatorium Jakarta (POJ), Taman Ismail Marzuki, Cikini (Jakarta). Pun demikian di Bali, yang bahkan berhasil merekam berlalunya sebuah meteor terang Geminids.

Gambar 3.
Meteor Geminids yang sangat terang di atas kota kecil Fort Smith, Arkansas (AS). Demikian terangnya meteor inis ehingga bahkan melampaui kecemerlangan Bulan purnama.
Sumber: Emfinger, 2012.

Pencapaian-pencapaian ini memang sedikit berbeda, katakanlah dibandingkan kampanye observasi Geminids yang demikian gegap gempita di mancanegara. Misalnya seperti di Arkansas (AS), yang demikian spektakuler karena selain didukung langit cerah sepenuhnya juga meraih bonus: meteor Geminids yang sangat terang sehingga melampaui terangnya Bulan purnama (produk masuknya bongkahan batuan seukuran 16 meter dengan energi potensial setara 17 butir bom nuklir Hiroshima)! Meski demikian pencapaian-pencapaian di Indonesia tetap menunjukkan bahwa anak bangsa ini turut berkontribusi dalam mengamati fenomena langit, meski dengan segala keterbatasannya.

Leave a Reply