Hujan meteor Geminids 2011

Pasca gerhana Bulan total 10 Desember 2011, masih ada berbagai peristiwa menakjubkan di langit malam. Salah satunya hujan meteor Geminid, yang bakal mencapai puncaknya pada Rabu 14 Desember 2011.

Hujan meteor?
Hujan meteor adalah istilah bagi fenomena terlihatnya sejumlah meteor secara berturut-turut dalam satu selang waktu tertentu dimana seluruh meteor seakan-akan berasal dari satu titik yang sama di langit. Pada kondisi tertentu jumlah meteor yang terlibat cukup banyak sehingga mengesankan seperti guyuran hujan. Inilah yang membuatnya dinamakan hujan meteor. Hujan meteor diberi nama sesuai dengan gugusan bintang yang menjadi lokasi sumbernya. Jadi hujan meteor Geminid merupakan hujan meteor yang sumbernya berada dalam rasi Gemini.



Darimana asalnya hujan meteor?
Pada dasarnya setiap hujan meteor yang dikenal di Bumi berasal dari remah-remah komet yang terhambur di sepanjang orbitnya. Tiapkali sebuah komet melintas mendekati Matahari dalam peredarannya menyusuri orbitnya, tekanan angin dan badai Matahari akan menghamburkan debu dan bekuan gampang menguap dari pemukaan komet. Eksitasi atomik dan pantulan sinar Matahari membuatnya menjadi ekor gas dan ekor debu yang khas. Ekor debu bisa menjulur sejauh 150 juta km, bahkan dalam kasus komet Hyakutake sejauh 300 juta km dengan lebar bisa menyamai Jupiter.

Seiring kian menjauhnya komet, gas akan menghilang di keluasan angkasa, namun debunya masih tertinggal di sepanjang orbit komet tersebut. Ini dikenal sebagai filamen. Selanjutnya, karena komet merupakan benda langit anggota tata surya yang orbitnya takstabil sehingga rawan terkena gangguan gravitasi planet-planet, giliran gravitasi Bumi atau kombinasinya dengan gravitasi Jupiter mengambil alih peran. Filamen pun mengalami modifikasi. Sehingga tatkala Bumi melintas di dekat orbit komet tersebut, terbuka potensi filamen bertemu dengan Bumi.

Pertemuan tersebut akan menyebabkan filamen, yang terdiri dari debu-debu renik dan beberapa seukuran kerikil, masuk ke atmosfer dalam kecepatan sangat tinggi. Ini memproduksi tekanan ram dalam atmosfer, yang demikian besarnya sehingga mampu menaikkan suhu setempat sangat tinggi yang membuat debu tersebut menguap. Sepanjang pemanasan terjadi, terpancarkanlah cahaya yang kita saksikan sebagai meteor. Umur cahaya tersebut sangat singkat, yakni 1-2 detik. Mayoritas meteor ini menguap habis di ketinggian 60 hingga 90 km dari permukaan Bumi. Namun jika kerikil yang masuk, kilatan cahaya bisa terlihat lebih dari 5 detik dan baru musnah di ketinggian 40 km atau kurang. Kita mengenalnya sebagai fireball, meteor terang atau ndaru.

Fireball tampak disebelah kanan pengamat hujan meteor. Credit : Eko Hadi G

Setiap kali komet melintas mendekati Matahari, pada dasarnya mengalami perubahan orbit akibat gravitasi planet-planet, meskipun perubahan ini relatif kecil. Makanya filamen yang diproduksinya pun berbeda posisi dibanding filamen-filamen sebelumnya. Pada situasi tertentu, Bumi dapat berpapasan dengan lebih dari satu filamen dari komet yang sama. Akibatnya debu yang masuk ke atmosfer sangat banyak, sehingga jumlah meteor yang terbentuk amat melimpah. Pada November 1966 dan 1998 misalnya, tiga filamen dari komet Tempel-Tuttle masuk ke Bumi secara bersamaan sehingga menghasilkan guyuran hujan meteor Leonid amat intensif, dimana setiap jamnya rata-rata terbentuk 100.000 meteor atau lebih.

Hujan meteor Geminid?
Hujan meteor Geminid terjadi tiap paruh pertama bulan Desember. Pada tahun 2011 ini hujan meteor Geminid berlangsung antara 7 hingga 17 Desember 2011 dengan puncaknya pada 14 Desember. Hujan meteor Geminid rata-rata memproduksi 120 meteor/jam pada puncaknya dan tergolong cukup tinggi di antara hujan-hujan meteor lainnya. Secara umum hanya ada tiga hujan meteor yang mampu memproduksi 100 meteor/jam atau lebih, yakni Quadrantid di awal Januari, Perseid di awal Agustus dan Geminid.

Meteor Geminid rata-rata melejit dengan kecepatan awal 35 km/detik. Namun berbeda dengan hujan-hujan meteor lainnya yang relatif sudah jelas sumbernya, asal meteor Geminid masih misterius. Misi antariksa IRAS yang berbasis satelit teleskopik inframerah pada awal dekade 980-an sebenanya menyodorkan peluang memecahkan misteri Geminid. Pada 11 Oktober 1983 satelit IRAS mengidentifikasi asteroid Phaethon yang orbitnya sangat lonjong. Asteroid berdiameter 5 km ini memiliki profil orbit identik dengan meteor-meteor Geminid.

Total massa seluruh filamen Geminid diperkirakan setara dengan 1-10 % massa Phaethon, sehingga setara dengan massa kerak Phaethons etebal 5 hingga 20 cm. Dari sini nampaknya mengaitkan meteor-meteor Geminid dengan asteroid Phaethon mendapatkan pembenaran. Apalagi kemudian menyusul ditemukan asteroid 2005 TD dan 1999 YC yang profil orbitnya menyerupai Phaethon. Evaluasi dinamika orbit ketiganya menunjukkan ketiga asteroid kemungkinan berasal dari terpecahnya asteroid besar Pallas sekitar 26 juta tahun silam. Apalagi bagaimana terjadinya tabrakan antar asteroid telah dibuktikan dengan gemilang oleh teleskop antariksa Hubble setahun silam.

Namun dugaan ini dimentahkan oleh dinamika filamen Geminid, yang mengesankan baru terbentuk sekitar 600 hingga 2.000 tahun silam di lingkungan dekat Matahari. Jadi bukan setua 26 juta tahun yang lalu. Filamen-filamen itu mulai berpotongan dengan orbit Bumi sejak 1,5 abad silam sehingga baru sejak itulah Geminid bisa kita lihat. Selain itu, meskipun Phaethon berkemungkinan menyemburkan debu halus akibat retaknya permukaannya saat mendekati Matahari hingga tiba di titik perihelionnya yang hanya sejauh 21 juta km (jauh lebih dekat ke Matahari dibanding Merkurius), namun jumlahnya amat kecil sehingga dari tiap 10.000 meteor Geminid hanya satu yang berasal dari asteroid Phaethon.

Jadi darimana asal mateor Geminid masihlah misterius.

Bagaimana cara mengamati ?
Puncak hujan meteor Geminid akan bertepatan dengan Rabu dinihari 14 Desember 2011 waktu Indonesia. Dalam mengamati hujan meteor tidak dibutuhkan instrumen bantu seperti teleskop, cukup mengandalkan mata tanpa alat saja. Pada Rabu dinihari, rasi Geminid sudah ada di langit barat sehingga pengamatan bisa difokuskan ke langit barat dan sekitarnya, meski tidak menutup kemungkinan mengamati bagian langit yang berlawanan.

Radiant Hujan Meteor Geminids 2011

Sayangnya, terlepas dari cuaca yang cenderung tidak bersahabat seiring kembalinya siklus anomali cuaca berupa Madden-Julian Oscillation (MJO) yang berpotensi mendatangkan hujan teramat lebat, situasi langit pun kurang mendukung. Bulan masih cukup bendeang di langit, sebab baru dua hari lepas dari situasi purnama. Ini menyebabkan meteor-meteor Geminid takkan terlihat, kecuali jika terbentuk fireball.

Ma'rufin Sudibyo

Orang biasa saja yang suka menatap bintang dan sedang mencoba menjadi komunikator. Saat ini sebagai ketua tim ahli Badan Hisab dan Rukyat Daerah (BHRD) Kebumen, Jawa Tengah. Aktif pula dalam Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Falak Rukyatul Hilal Indonesia (LP2IF RHI), Ikatan Cendekiawan Falak Indonesia (ICFI), Jogja Astro Club dan International Crescent Observations Project(ICOP). Juga sebagai pembimbing dan pendamping Forum Kajian Ilmu Falak (FKIF) Gombong dan Majelis Kajian Ilmu Falak (MKF) Kebumen, keduanya di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Leave a Reply