Hari matahari diujung selatan katulistiwa

Hari ini Kamis 22 Desember 2011 menjadi saat yang penting untuk Matahari. Di hari inilah tepatnya pukul 13:30 WIB Matahari akan menempati titik paling selatan yang sanggup dijangkaunya dalam gerak semu tahunannya. Secara teknis pada saat itu nilai deklinasi Matahari di belahan langit selatan mencapai maksimum dalam perspektif tata koodinat ekuator. Konsekuensinya setelah 22 Desember 2011, deklinasi Matahari perlahan–lahan akan mengecil sehingga akhirnya menyeberangi khatulistiwa langit dan menjelajah belahan langit utara mulai 21 Maret 2012 mendatang.

Tradisi Eropa dan Amerika Utara menyebut kondisi saat Matahari berada di titik paling selatan sebagai winter solstice atau titik balik musim dingin. Sebabnya peristiwa tersebut terjadi pada saat musim dingin mencapai puncaknya di kawasan tersebut. Istilah ini kemudian diterima dan menjadi penamaan universal bagi peristiwa tersebut, meskipun pada galibnya situasi yang sangat berbeda terjadi di belahan Bumi selatan. Bagi kawasan Amerika bagian selatan, Afrika bagian selatan serta Australia, Selandia Baru dan sekitarnya maka winter solstice justru menjadi puncak dari musim panas.

Pola angka 8 ini adalah analemma, terjadi jika Matahari difoto pada jam yang sama setiap 10 hari sekali sepanjang tahun. Perhatikan posisi winter solstice

Winter solstice merupakan konsekuensi dari gerak semu tahunan Matahari sebagai akibat peredaran Bumi mengelilingi Matahari, miringnya sumbu rotasi Bumi terhadap bidang tegak lurus orbitnya (ekliptika) dan gerak bergoyang sumbu rotasi Bumi (presesi). Sebagai akibat dari sejarah pembentukan Bumi yang unik di awal tata surya, maka sumbu rotasi Bumi mengalami kemiringan sebesar 23? 26’ terhadap bidang tegaklurus ekliptika. Kemiringan ini menyebabkan Bumi bisa dipengaruhi oleh gravitasi Bulan, Venus dan  Jupiter. Gravitasi Bulan mampu menyetabilkan kemiringan sumbu rotasi Bumi sehingga hanya bervariasi di antara 22? hingga 24?. Namun tarikan gravitasi planet Venus dan planet raksasa Jupiter memaksa sumbu rotasi Bumi bergoyang secara teratur dengan periode 24.000 tahun.



Salah satu dampak presesi yang kasat mata adalah berubahnya posisi kutub utara langit. Jika pada saat ini kutub utara langit amat berdekatan dengan bintang Polaris di rasi Ursa Minor, maka dalam 12.000 tahun mendatang giliran bintang terang Vega di rasi Lyra yang menjadi lokasi kutub utara langit. Presesi juga menyebabkan pergeseran pada titik–titik istimewa Matahari, termasuk titik winter solstice. Sebagai konsekuensinya maka nilai periode tropis Matahari, yakni selang waktu antara dua kejadian Matahari menempati titik winter solstice yang berurutan adalah lebih cepat 20 menit 24 detik dibanding periode sideris Matahari, yakni selang waktu antara dua kejadian berurutan bagi konjungsi Matahari dengan sebuah bintang yang sama. Periode tropis inilah, yang besarnya 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik, yang menjadi dasar bagi sistem kalender universal berbasis Matahari yang amat penting peranannya bagi peradaban kita saat ini.

Bagi kawasan tropis seperti Indonesia, pada saat winter solstice terjadi maka kita sedang mengalami musim hujan. Penjelasan sederhananya, saat Matahari menyusuri di belahan langit selatan maka belahan Bumi bagian selatan menerima pemanasan Matahari lebih intensif sehingga menjadi kawasan bertekanan rendah. Akibatnya udara pun berhembus dari belahan Bumi bagian utara yang lebih dingin. Terciptalah angin muson barat, yang membawa cukup banyak uap air dan mengembun di udara Indonesia membentuk awan dan hujan. Namun dinamika cuaca Indonesia sebenarnya tidak sesederhana itu.

Kombinasi penyinaran Matahari, pengauh angin pasat dan faktor–faktor yang belum diketahui menyebabkan cuaca Indonesia dapat dipengaruhi tiga jenis anomali : osilasi selatan el–Nino, osilasi dwi–kutub Samudera Hindia dan osilasi Madden–Julian. Osilasi selatan el–Nino berpusat di perairan Samudera Pasifik. Osilasi positif (disebut el–Nino) mampu menimbulkan musim kering berkepanjangan yang memundurkan puncak musim hujan. Sementara osilasi selatan yang negatif (dinamakan la–Nina) dapat menciptakan musim hujan berkepanjangan. Pun demikian osilasi dwi–kutub Samudera Hindia, hanya saja yang ini berpusat di perairan Samudera Hindia. Osilasi positif dapat memundurkan musim hujan dan sebaliknya bisa membuat musim hujan maju. Sebaliknya osilasi Madden–Julian berlangsung di seluruh perairan samudera tropis tanpa menetap di satu kawasan. Osilasi ini mendatangi suatu tempat secara periodik tiap 30 hingga 45 hari sekali dan mampu mendatangkan hujan teramat deras selama seminggu atau lebih.

Eko Hadi G

Penulis dan editor di Kafe Astronomi.com yang mendalami dunia astronomi amatir semenjak tahun 2010. Selain astrofotografi, penelitian seputar etnoastronomi merupakan salah satu kegiatan yang digemarinya di komunitas astronomi Penjelajah Langit. Email : ekohadigunawan@gmail.com Fb : Eko Hadi G

Leave a Reply