Tahun 2018 akan menjadi awal bagi kisah memerahnya rembulan yang sejak beberapa tahun silam tak pernah lagi mengalami Gerhana Bulan Total. Gerhana Bulan Total terakhir terjadi di Indonesia sekitar tiga tahun yang lalu atau tepatnya pada tanggal 4 April 2015. Selama tahun 2018, Gerhana Bulan Total akan kembali mewarnai langit Indonesia selama dua kali berturut-turut. Gerhana Bulan Total pertama akan terjadi pada 31 Januari 2018 dan Gerhana Bulan Total kedua akan terjadi pada 27 Juli 2018. Gerhana Bulan Total merupakan sebuah fenomena alam ketika Bulan purnama tampak meredup kemudian memerah sesaat hingga akhirnya bersinar kembali di kegelapan langit malam.

Gerhana Bulan Total. Sumber: Snopes.com

Di masa lalu, Gerhana Bulan Total memiliki kisah tersendiri baik di dunia maupun di Indonesia. Bagi masyarakat Jawa, mereka meyakini bahwa ketika Gerhana Bulan terjadi, Bulan yang kala itu sedang memasuki fase purnama sedang dimangsa raksasa jahat. Raksasa tersebut berwujud kepala tanpa badan yang melayang-layang diangkasa mengerjar sang rembulan. Meyakini hal itu, saat gerhana bulan terjadi masyarakat jawa memukul kentongan maupun lesung agar rembulan yang sedang dimangsa dapat dimuntahkan oleh raksasa jahat dan kembali menjadi Bulan purnama seperti sedia kala. Tak lama kemudian setelah lesung dan kentongan dipukul sang raksasapun akhirnya memuntahkan rembulan dan Bulan purnama kembali memancarkan cahayanya menerangi langit malam.

Dalam sudut pandang ilmu pengetahuan, Gerhana Bulan Total merupakan sebuah fenomena alam yang terjadi ketika Bulan yang berada pada fase Purnama terletak di wilayah bayangan gelap Bumi. Wilayah ini umumnya disebut sebagai umbra. Pada saat Gerhana Bulan Total terjadi umumnya Bulan akan menjadi berwarna merah bahkan merahnya akan tampak seperti merah darah atau “Blood Moon.” Warna merah yang muncul merupakan hasil dari hamburan cahaya matahari yang melintasi atmosfer Bumi. Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa dari seluruh warna yang ada, warna merah adalah warna yang memiliki panjang gelombang yang terpanjang sehingga pada saat cahaya matahari dihamburkan oleh atmosfer Bumi maka hanya panjang gelombang warna merah saja yang bisa menembus lapisan atmosfer Bumi. Panjang gelombang warna merah tersebut yang akhirnya mengenai permukaan Bulan dan menyebabkan warna merah saat terjadi gerhana Bulan total. Semakin posisi bulan berada dekat dengan garis ekliptika maka warna merah saat Gerhana Bulan terjadi akan semakin pekat. Selama tahun 2018 Gerhana Bulan Total yang akan tampak merah menyerupai merah darah adalah saat puncak Gerhana Bulan Total 27 Juli 2018 nanti.

Hanya panjang gelombang warna merah yang mampu melewati lapisan atmosfer Bumi. Kredit : KafeAstronomi.com

Dalam rangkaian Gerhana Bulan Total 2018 setiap Gerhana Bulan Total memiliki keistimewaannya masing-masing. Pada Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018, Gerhana Bulan Total akan jatuh pada fase purnama kedua yang terjadi ketika dalam satu bulan masehi terdapat dua fase Bulan Purnama. Bulan Januari 2018 memiliki dua fase Bulan purnama yakni fase pertama pada 2 Januari 2018 dan fase Bulan purnama kedua pada 31 Januari 2018. Umumnya jika terdapat dua fase purnama dalam satu bulan masehi Bulan purnama kedua disebut dengan istilah Bluemoon. Pada masa lalu Gerhana Bulan Total yang jatuh pada saat Bluemoon terjadi pada 31 Maret 1866 atau sekitar 152 tahun yang lalu. Sedang Gerhana Bulan Total yang terjadi setelah 31 Januari 2018 akan terjadi pada 31 Desember 2028 dan 31 Januari 2037. Oleh karena Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018 jatuh pada saat bluemoon maka gerhana bulan tersebut disebut sebagai “BlueMoon Eclipse” atau “Super Blue Moon Eclipse” karena jarak Bumi dan Bulan yang masih sangat dekat. Lantas, akankah Bulan berwarna biru? Tidak. Bulan akan tetap berwarna merah layaknya Gerhana Bulan Total pada umumnya.

Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018 dapat diamati diseluruh wilayah kepulauan Indonesia. Untuk mengamati fenomena alam Gerhana Bulan Total masyarakat dapat melihat langsung ke arah Bulan selepas matahari terbenam. Agar lebih optimal disarankan untuk menggunakan alat bantu optik seperti binokuler maupun teleskop. Namun jika anda tidak memiliki alat bantu optik dan hanya punya dua bola mata saja, Gerhana Bulan Total tetap dapat kita amati dengan baik. Saat peristiwa Gerhana Bulan Total terjadi, fase-fase gerhana dapat kita saksikan dengan aman tanpa menggunakan kacamata khusus.

Gerhana Bulan Total akan dimulai dengan fase dimana Bulan memasuki wilayah Penumbra atau bayangan kabur Bumi. Pada fase ini Bulan seolah tampak sama dengan purnama biasanya namun sesungguhnya Bulan sudah masuk dalam gerhana dan fase ini di tandai dengan fase P1. Setelah fase P1 dilalui maka fase selanjutnya adalah fase dimana Bulan akan memasuki wilayah bayangan gelap Bumi atau umbra. Fase ketika Bulan mulai memasuki wilayah umbra umumnya ditandai dengan fase U1. Pada fase U1 Bulan akan tampak sebagian menjadi gelap dan menghitam hingga akhirnya seluruh permukaan Bulan masuk pada fase U2 atau total. Puncak gerhana akan ditandai dengan fase Total atau Greatest. Setelah Bulan mencapai puncak gerhana maka fase selanjutnya adalah U3 dimana Bulan perlahan akan meninggalkan wilayah umbra dan pada saat U3 terjadi Bulan perlahan akan menampakkan warna putih kembali. Kemudian selepas Bulan meninggalkan seluruh wilayah umbra maka Bulan kini berada di wilayah penumbra dan fase ini ditandai dengan fase U4. Dan fase terakhir yang hampir tak kasat mata adalah fase U4 menuju fase P4 atau fase dimana Bulan telah kembali normal dan meninggalkan wilayah penumbra. Berikut gambaran fase-fase Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018.

Tahapan fase Gerhana Bulan Total. Kredit : KafeAstronomi.com

Bilamana anda ingin mengamati Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018 anda dapat menggunakan linimasa fase-fase Gerhana Bulan Total 31 januari 2018 pada tabel berikut ini.

Tahapan Gerhana Zona WIB Zona WITA Zona WIT
P1 17.51.15 WIB   18.51.15 WITA 19.51.15 WIT
U1 18.48.27 WIB 19.48.27 WITA 20.48.27 WIT
U2 19.51.47 WIB 20.51.47 WITA 21.51.47 WIT
PUNCAK 20.31.00 WIB 21.31.00 WITA 22.31.00 WIT
U3 21.07.51 WIB 22.07.51 WITA 23.07.51 WIT
U4 22.11.11 WIB 23.11.11 WITA 00.11.11 WIT
P4 23.08.27 WIB 00.08.27 WITA 01.08.27 WIT

Referensi :
– https://eclipse.gsfc.nasa.gov
– http://earthsky.org
– https://www.space.com