Fireball Hermosilo

Tanpa banyak publikasi,sebenarnya hari-hari ini Bumi sedang bergerak melintasi jalur remah-remah sebuah komet periode pendek (periode orbital hanya 3,3 tahun) nan legendaris, yakni komet Encke. Remah-remah tersebut memasuki atmosfer Bumi sebagai guyuran yang seolah-olah bersumber dari rasi bintang Taurus, sehingga disebut hujan meteor Taurids. Meski tergolong minor karena hanya mampu menghasilkan 5 meteor/jam, hujan meteor Taurids menempati posisi istimewa sebab dengan kecepatan relatif kecil dibanding hujan-hujan meteor lainnya (yakni hanya 27 km/detik) dan ukuran meteoroid kerap cukup besar, hujan meteor Taurids kerap memproduksi meteor terang (fireball).

Image Credit : Salvador Aguirre

Salah satu fireball Taurids yang amat mengesankan terjadi pada 2 November 2012 dinihari di langit Hermosilo (Mexico). Fireball demikian cemerlang sehingga bahkan sampai 100 kali lebih terang dari Bulan purnama. Dengan kecepatan 27 km/detik, massa jenis inti omet Encke 0,14 g/cc, sudut jatuh (slope) diasumsikan 45 derajat dan tingkat terang diasumsikan setara Bulan purnama, maka perhitungan menyimpulkan fireball tersebut semula berupa meteoroid besar berdiameter minimal 15 meter alias seukuran truk gandeng! Jelas bahwa meteoroid ini bukanlah debu maupun kerikil, melainkan bongkahan besar sebagai hasil pecahan inti komet Encke, sebuah inti komet yang memiliki diameter 4 km.



Tatkala memasuki atmosfer Bumi, bongkahan besar tersebut berubah menjadi meteor dan terpecah-belah di ketinggian 113 km dpl. Namun pecahan-pecahan tersebut terus melejit sembari terus-menerus mengalami pemecahbelahan sebelum akhirnya terhenti di ketinggian 52 km dpl saat terjadi ledakan (airblast). Energi ledakan itu sebesar 28 kiloton TNT atau sedikit lebih besar dibanding kekuatan sebutir bom nuklir Hiroshima. titik ledakan yang sangat tinggi menyebabkan tidak ada dampak apapun yang dialami ground zero (permukaan Bumi tepat di bawah titik ledakan) baik termal (panas) maupun mekanik (penjalaran gelombang kejut), kecuali getaran seismik dengan magnitudo sekitar 1,3 skala Richter akibat konversi sebagian kecil energi akustik (gelombang suara) menjadi energi seismik (gelombang Rayleigh).

Kejadian fireball Hermosilo menegaskan kembali bahwa inti komet adalah rapuh, jauh lebih rapuh ketimbang batuapung (yang sama-sama didominasi pori-pori sehingga massa jenisnya dibawah 1 g/cc). Rapuhnya inti komet membuatnya mudah terpecahbelah hanya oleh tekanan angin Matahari khususnya saat tiba di perihelionnya. Di sisi lain, tatkala komet bergerak menyusuri orbitnya, remah-remah yang ditinggalkannya sepanjang orbitnya tak hanya seukuran debu dan kerikil seperti umum dikenal, namun dapat juga berupa bongkahan besar hasil pemecahbelahan inti komet. Jika bongkahan itu cukup besar dan dalam kondisi seperti komet Encke, dampak bagi permukaan Bumi dan peradaban manusia akan signifikan. Sejarah mencatat betapa bongkahan komet seukuran 60 meter yang meledak di atas Tunguska (Rusia) pada 30 Juni 1908 mampu meratakan hutan seluas 2.000 km persegi seiring hantaman gelombang kejutnya di atmosfer.

Ma'rufin Sudibyo

Orang biasa saja yang suka menatap bintang dan sedang mencoba menjadi komunikator. Saat ini sebagai ketua tim ahli Badan Hisab dan Rukyat Daerah (BHRD) Kebumen, Jawa Tengah. Aktif pula dalam Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Falak Rukyatul Hilal Indonesia (LP2IF RHI), Ikatan Cendekiawan Falak Indonesia (ICFI), Jogja Astro Club dan International Crescent Observations Project(ICOP). Juga sebagai pembimbing dan pendamping Forum Kajian Ilmu Falak (FKIF) Gombong dan Majelis Kajian Ilmu Falak (MKF) Kebumen, keduanya di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Leave a Reply