Data Astronomis bulan baru 17 Agustus 2012

Ramadhan akan berakhir beberapa hari lagi dan umat muslim di seluruh dunia akan merayakan hari raya Idul Fitri. Berbagai polemik masalah penentuan awal bulan sering muncul seiring penentuan 1 ramadhan dan 1 syawal. Lantas kapan 1 Syawal 1433 H di indonesia menurut kriteria-kriteria yang ada di indonesia? Berikut data astronomis yang dapat kita gunakan untuk menentukan kapan 1 syawal menurut kriteria-kriteria di indonesia



New Moon/Konjungsi/Ijtima 17 Agustus 2012 pukul 22.56 WIB

New Moon/Konjungsi/Ijtima : Jumat 17 Agustus 2012 pukul 22.56 WIB
Lokasi dan Tanggal : Yogyakarta (7° 45′ LS, 110° 23′ BT), 18 Agustus 2012
Data Matahari
Matahari Terbenam : 17:38 WIB
Azimuth : 282º 53,6′
Data Bulan
Ketinggian Bulan saat matahari terbenam : 6º 44,7′
Azimuth bulan saat matahari terbenam : 275º 54,7′
Umur bulan : 19 Jam 40 Menit
Elongasi : 10º 17′ 30″
Bulan tenggelam : 18.10 WIB
Azimuth bulan tenggelam : 274º 43,0′
Beda azimuth : 8º 10′

Posisi Hilal pada tanggal 18 Agustus 2012

Simulasi hilal 1 Syawal 1433 H 18 Agustus 2012

 

Peta Visibilitas Hilal

Peta Visibilitas Hilal 1 Syawal 1433 H. Credit : Accurate Times, Mohammad Odeh

 

Mengacu pada data yang ada, bulan pada hari sabtu 18 Agustus 2012, bulan mencapai ketinggian hingga 6º dan peta visibilitas hilal menunjukkan bahwa hilal dapat dilihat oleh mata dengan bantuan alat optik seperti teleskop dan binokular. Sehingga jika anda akan melakukan pengamatan hilal disarankan pengamatan dilakukan pada hari Sabtu 18 Agustus 2012.

Kapan 1 Syawal?
Berdasarkan kriteria-kriteria yang ada maka 1 Syawal 1433 H akan jatuh pada tanggal.

Kriteria
Tanggal
Kriteria Rukyat Hilal : 19 Agustus 2012
Kriteria Hisab Imkanur Rukyat : 19 Agustus 2012
Kriteria Hisab Wujudul Hilal : 19 Agustus 2012
Kriteria Kalender Hijriyah Global : Zona Timur 19 Agustus 2012 dan Zona Barat 19 Agustus 2012
Kriteria Rukyat Hilal Arab Saudi : 19 Agustus 2012

Keterangan Kriteria Hilal (Dikutip dari Rukyatulhilal.org)

1. Menurut Kriteria Rukyat Hilal ( Teori Visibilitas Hilal )
Teori Visibilitas Hilal terbaru telah dibangun oleh para astronom dalam proyek pengamatan hilal global yang dikenal sebagai Islamic Crescent Observation Project (ICOP) berpusat di Yordania berdasar pada sekitar 700 lebih data observasi hilal yang dianggap valid. Teori ini menyatakan bahwa hilal hanya mungkin bisa dirukyat jika jarak sudut Bulan dan Matahari minimal 6,4° (sebelumnya 7°) yang dikenal sebagai “Limit Danjon”. Kurva Visibilitas Hilal sebagai hasil perhitungan teori tersebut mengindikasikan bahwa untuk wilayah sekitar Katulistiwa (Indonesia) hilal baru mungkin dapat dirukyat menggunakan mata telanjang minimal pada ketinggian di atas 6°. Di bawah itu hingga ketinggian di atas 4° diperlukan alat bantu penglihatan seperti teleskop dan sejenisnya.

Nahdlatul Ulama (NU) yang menggunakan rukyat sebagai dasar penentuan awal bulan masih mengakui kesaksian rukyat asalkan ketinggiannya di atas batas imkanurrukyat 2° bahkan hanya dengan mata telanjang. Sementara dalam penyusunan kalendernya NU menggunakan kriteria imkanurrukyat 2° tanpa syarat elongasi dan umur Hilal.

2. Menurut Kriteria Hisab Imkanur Rukyat
Pemerintah RI melalui pertemuan Menteri-menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) menetapkan kriteria yang disebut Imkanurrukyat yang dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan bulan pada Kalender Islam negara-negara tersebut yang menyatakan :

Hilal dianggap terlihat dan keesokannya ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah berikutnya apabila memenuhi salah satu syarat-syarat berikut:

  1. Ketika Matahari terbenam, ketinggian Bulan di atas horison tidak kurang dari 2° dan
  2. Jarak lengkung Bulan-Matahari (sudut elongasi) tidak kurang dari 3°. Atau
  3. Ketika Bulan terbenam, umur Bulan tidak kurang dari 8 jam selepas konjungsi/ijtimak berlaku.

Kriteria inilah yang menjadi pedoman Pemerintah RI untuk menyusun kalender Taqwim Standard Indonesia yang digunakan dalam penentuan hari libur nasional secara resmi. Dengan kriteria ini pula keputusan Sidang Isbat Penentuan Awal Bulan Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah “bisa ditebak hasilnya”. Ormas Persatuan Islam (Persis) belakangan telah mengadopsi kriteria ini sebagai dasar penetapan awal bulannya. Belakangan kriteria ini hanya dipakai oleh Indonesia dan Malaysia sementara Singapura menggunakan Hisab Wujudul Hilal dan Brunei Darussalam menggunakan Rukyatul Hilal berdasar Teori Visibilitas.

3. Menurut Kriteria Hisab Wujudul Hilal
Muhammadiyah dalam penyusunan kalender Hijriyah baik untuk keperluan sosial maupun ibadahnya (Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah) menggunakan kriteria yang dinamakan “Hisab Hakiki Wujudul Hilal”. Kriteria ini menyatakan bahwa awal bulan Hijriyah dimulai apabila telah terpenuhi tiga kriteria berikut:

  1. telah terjadi ijtimak (konjungsi),
  2. ijtimak (konjungsi) itu terjadi sebelum matahari terbenam, dan
  3. pada saat terbenamnya matahari piringan atas Bulan berada di atas ufuk (bulan baru telah wujud).

Ketiga kriteria ini penggunaannya adalah secara kumulatif, dalam arti ketiganya harus terpenuhi sekaligus. Apabila salah satu tidak terpenuhi, maka bulan baru belum mulai. Atau dalam bahasa sederhanya dapat diterjemahkan sebagai berikut: “Jika setelah terjadi ijtimak, Bulan terbenam setelah terbenamnya Matahari maka malam itu ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah tanpa melihat berapapun sudut ketinggian Bulan saat Matahari terbenam”.

4. Menurut Kriteria Kalender Hijriyah Global
Universal Hejri Calendar (UHC) merupakan Kalender Hijriyah Global usulan dari Komite Mawaqit dari Arab Union for Astronomy and Space Sciences (AUASS) berdasarkan hasil Konferensi Ke-2 Atronomi Islam di Amman Jordania pada tahun 2001. Kalender universal ini membagi wilayah dunia menjadi 2 region sehingga sering disebut Bizonal Hejri Calendar. Zona Timur meliputi 180° BT ~ 20° BB sedangkan Zona Barat meliputi 20° BB ~ Benua Amerika. Adapun kriteria yang digunakan tetap mengacu pada visibilitas hilal (Limit Danjon).

5. Menurut Kriteria Rukyat Hilal Arab Saudi
Kurangnya pemahaman terhadap perkembangan dan modernisasi ilmu falak yang dimiliki oleh para perukyat sering menyebabkan terjadinya kesalahan identifikasi terhadap obyek yang disebut “Hilal” baik yang “sengaja salah” maupun yang tidak disengaja. Klaim terhadap kenampakan hilal oleh seeorang atau kelompok perukyat pada saat hilal masih berada di bawah “limit visibilitas” atau bahkan saat hilal sudah di bawah ufuk sering terjadi. Sudah bukan berita baru lagi bahwa Saudi kerap kali melakukan istbat terhadap laporan rukyat yang “kontroversi”.

Kalender resmi Saudi yang dinamakan “Ummul Qura” yang telah berkali-kali mengganti kriterianya hanya diperuntukkan sebagai kalender untuk kepentingan non ibadah. Sementara untuk ibadah Saudi tetap menggunakan rukyat hilal sebagai dasar penetapannya. Sayangnya penetapan ini sering hanya berdasarkan pada laporan rukyat dari seseorang tanpa terlebih dahulu melakukan klarifikasi dan konfirmasi terhadap kebenaran laporan tersebut apakah sudah sesuai dengan kaidah-kaidah sains astronomi khususnya Teori Visibilitas Hilal.

Eko Hadi G

Penulis dan editor di Kafe Astronomi.com yang mendalami dunia astronomi amatir semenjak tahun 2010. Selain astrofotografi, Web Kafe Astronomi.com merupakan salah satu wujud kecintaannya kepada dunia astronomi di Indonesia. Email : ekohadigunawan@gmail.com Fb : Eko Hadi G

Leave a Reply