Badai Meledak, Komet Mendekat

Jangan keburu merinding atau merasa horor dengan judul di atas. Yang pertama, situasi tersebut terjadi di Matahari. Dan yang kedua, Bumi tidak terdampak oleh badai maupun komet tersebut.

Badai yang dimaksud adalah badai Matahari. Pada Rabu dinihari 14 Maret 2012 pukul 00:41 WIB, sebuah badai Matahari kuat meletup dari area yang berdekatan dengan tepi cakram Matahari. Badai Matahari kali ini dikategorikan sebagai badai Matahari kelas M7, sebab pada puncaknya menghasilkan guyuran sinar-X di Bumi dengan puncak intensitas 70 mikrowatt per meter persegi (pada rentang panjang gelombang 0,1 hingga hingga 0,8 nanometer). Badai tersebut meletup dari bintik Matahari AR 1429, salah satu bintik Matahari terbesar sejak siklus aktivitas Matahari ke-24 dimulai pada Desember 2008 silam. Bintik Matahari AR 1429 ini juga yang beberapa hari sebelumnya meletupkan badai Matahari kelas X5, badai Matahari terbesar yang mengarah ke Bumi sejak 2005. Badai Matahari kelas M7 ini melontarkan jutaan ton proton dan elektron berkecepatan tinggi dengan lintasan menyinggung Bumi dan bakal melintasi Bumi pada Kamis 15 Maret 2012 pukul 13:20 WIB (dengan plus-minus 7 jam). Berdasarkan kekuatan badainya, badai Mathari ini berpotensi memicu badai geomagnetik berskala kecil atau menengah (yakni skala G1 atau G2). Pada skala tersebut badai geomagnetik tidak berdampak bagi jaringan listrik dan komunikasi di Bumi.



Komet SWAN (tanda panah kuning) dalam citra LASCO C3 SOHO per 13 Maret 2012 pukul 19:42 WIB.

Berselang enam jam sebelum badai meletup, instrumen LASCO (Large Scale Coronagraph) C3 satelit pengamat Matahari SOHO merekam sebentuk titik cahaya yang unik di sisi kiri bawahnya. Tidak seperti bintik cahaya lainnya yang relatif bergerak dari kiri ke kanan secara mendatar bagi bintang ataupun hanya nongol sekali bagi noise akibat interaksi angin Matahari-sinar kosmik dengan sensor CCD (charged copule device) LASCO C3, bintik cahaya unik ini bergerak dari kiri bawah menuju ke kanan atas atau menuju ke posisi Matahari. Gerak ini merupakan ciri khas gerak komet, khususnya komet pelintas-dekat Matahari (sungrazer). Konfirmasi muncul setelah citra-citra LASCO C3 berikutnya secara gamblang memperlihatkan bintik cahaya itu memiliki bentukan ekor, tidak salah lagi, itu memang komet! Jadi, selagi Matahari mempunyai bintik raksasa di permukaannya yang siap meletupkan beberapa badai Matahari nan kuat, sebuah komet tak dikenal sedang bergerak mendekati Matahari dan amat mungkin bakal menerobos atmosfernya.

Komet SWAN (tanda panah kuning) dalam citra LASCO C3 SOHO per 14 Maret 2012 pukul 00:56 WIB. Nampak badai Matahari mulai kelihatan menyembul dibalik koronagraf.

Komet itu adalah komet SWAN. Dinamakan demikian sebab komet ini pertama kali terdeteksi dalam citra yang dihasilkan instrumen SWAN (Solar Wind Anisotropies) milik satelit SOHO, yakni instrumen yang bertugas mengamati lingkungan sisi jauh Matahari (yakni yang berada di “belakang” Matahari dalam perspektif kita dari Bumi) dengan memanfaatkan pancaran sinar ultraungu matahari khususnya pada emisi Lyman alfa (121,6 nanometer) yang menyinari debu-debu antarplanet. Komet ini pertama kali dideteksi astronom amatir, ilmuwan non institusi dan pemburu komet dari Ukraina, Vladimir Bezugly, pada 8 Maret 2012 sebagai bintik cahaya terang yang tak biasa dalam citra SWAN. Pola pergerakan bintik cahaya ini memastikan bahwa komet tersebut adalah komet baru, yakni komet yang tak ada dalam katalog komet-komet yang pernah teramati. Komet baru ini sekaligus juga merupakan komet pelintas-dekat Matahari yang menjadi bagian keluarga komet Kreutz. Salah satu anggota keluarga komet ini yang paling menonjol adalah komet Lovejoy, komet sangat terang di akhir 2011 silam yangs ekaligus mencatat rekor sebagai komet paling terang dalam lima tahun terakhir. Sayangnya tidak seperti komet Lovejoy, profil orbit komet SWAN tidak bisa diidentifikasi karena data-data observasi kurang mencukupi. Yang jelas, seperti halnya komet Lovejoy, komet ini pun bakal menerobos atmosfer Matahari (korona) yang panas menggidikkan.

Komet SWAN (tanda panah kuning) dalam citra LASCO C3 SOHO per 14 Maret 2012 pukul 06:30 WIB. Nampak badai Matahari sudah mengalir dan pancaran sinar X-nya melewati debu antarplanet menghasilkan guyuran elektron yang memproduksi noise pada citra (garis-garis putih).

Komet terus bergerak mendekati Matahari menyusuri orbitnya (yang kemungkinan besar adalah orbit sangat lonjong/ellips dengan eksentrisitas orbit sangat besar hingga mendekati 1) guna menuju perihelionnya. Komet SWAN nampaknya tidak terpengaruh letupan badai Matahari kelas M7 yang dipancarkan bintik Matahari AR 1429. Ini bisa dipahami karena lintasan badai Matahari tidak berpotongan dengan lintasan komet. Hingga Kamis 15 Maret 2012 pukul 04:30 WIB, instrumen LASCO satelit SOHO masih merekam gerak komet SWAN. Meski tidak seterang komet Lovejoy di akhir 2011 silam, namun diyakini tingkat terang komet ini bakal menanjak sehingga menempati posisi kedua di bawah komet Lovejoy. Meskipun begitu komet SWAN tak bakal bisa kita lihat dengan cara apapun, kecuali mengandalkan satelit pemantau Matahari.

Komet SWAN terlihat cukup jelas dalam citra LASCO C2 SOHO per 15 Maret 2012 pukul 04:36 WIB.

Bagaimana nasib komet ini jika telah menerobos atmosfer Matahari? Model matematis yang sempat disusun mengindikasikan komet bakal musnah sepenuhnya akibat penguapan brutal oleh suhu yang sangat tinggi di lingkungan atmosfer Matahari, yang mencapai 3 hingga 4 juta derajat Celcius. Namun ini bukan suatu hal yang pasti. Kasus komet Lovejoy, yang melintas hanya 131 ribu km dari permukaan Matahari, ternyata bisa lolos dari ancaman penghancuran total dalam situasi suhu sangat tinggi. Meskipun kecil, peluang serupa barangkali juga dimiliki oleh komet SWAN.

Berbahayakah komet SWAN bagi Bumi? Tidak. Sebab sebagai komet pelintas-dekat Matahari, lintasan komet seperti ini tidak pernah berpotongan dengan orbit Bumi. Sehingga peluang bertabrakan dengan Bumi adalah nol. Lho, bukankah kehadiran komet di langit adalah indikasi bakal datangnya bencana di Bumi, meski lintasan komet tak memotong orbit Bumi? Ah itu khan hanya anggapaan kuno yang tak berdasar dari era Aristoteles 2 ribu tahun silam.

Ma'rufin Sudibyo

Orang biasa saja yang suka menatap bintang dan sedang mencoba menjadi komunikator. Saat ini sebagai ketua tim ahli Badan Hisab dan Rukyat Daerah (BHRD) Kebumen, Jawa Tengah. Aktif pula dalam Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Falak Rukyatul Hilal Indonesia (LP2IF RHI), Ikatan Cendekiawan Falak Indonesia (ICFI), Jogja Astro Club dan International Crescent Observations Project(ICOP). Juga sebagai pembimbing dan pendamping Forum Kajian Ilmu Falak (FKIF) Gombong dan Majelis Kajian Ilmu Falak (MKF) Kebumen, keduanya di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Leave a Reply